Set free from half truth. Dibebaskan dari kebenaran yang tidak lengkap.

By Swanky Djongroaminoto

It is a very blessed day!

Sudah lebih dari 20 tahun, sejak saya terima Tuhan, saya melihat alkitab itu tidak konsisten.  Satu waktu diajarkan Tuhan itu adalah kasih. (1 Yoh 4:8)  KasihNya kekal (Yeremiah 31:3), kasihNya sempurna (Mazmur 52:8) kasihNya tidak membedakan (Yohanes 3:16) dan kasihNya… Namun dilain waktu dikatakan Tuhan mengutuk (Ulangan 28:15-68) Kasih Tuhan itu seolah bersyarat.

Tragisnya lagi di Ulangan 28 itu yang menyinggung berkat lebih sedikit dibanding kutuk, berkat hanya 14 ayat dan kutuk 54 ayat. Bingung saya padahal dari awal saya diajarkan kalau alkitab itu adalah Good News / Berita Baik ??? Belum lagi mengenai kutuk keturunan. (Keluaran 20:5; 34:7; Bilangan 14:18; Ulangan 5:9) Rasanya tidak adil banget ayahnya bikin salah tapi anaknya kena akibatnya.

 Ini hanya beberapa contoh dari ketidak konsistenan alkitab.  Contoh lain adalah pengajaran Yesus di atas bukit Matius 5, ditemukan banyak sekali ketidak konsistenan.  Saya cukup ambil satu dua contoh saja.  Mengapa banyak sekali orang Kristen yang marah tapi tidak dihukum?  Mengapa sampai sekarang saya tidak pernah mendengar atau membaca atau melihat ada yang matanya dicungkil atau tangannya buntung di gereja karena mentaati ajaran Yesus itu??   Apakah mungkin ada orang yang bisa sempurna seperti Bapa disurga sempurna???  Artinya adalah suatu misi yang tidak mungkin yang diajarkan Yesus diatas bukit. Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab didalam alkitab karena ketidak konsistenan itu. Akhirnya saya paling berkata kalau saya mengerti segala sesuatu mengenai Tuhan, Dia bukan Tuhan lagi.

 Namun semua pertanyaan ini tidak terus menghilang karena memang jawabannya adalah jawaban pasrah… :)) alias kurang mantap…

 Sampai akhirnya sejak 2 tahun yang lalu, saya mulai belajar mengenai injil kasih karunia  (the Gospel of Grace) atau juga disebut injil Yesus Kristus (the Gospel of Jesus Christ).  “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Kisah Rasul 20:24 (inilah tujuan dari hidup Rasul Paulus, memberikan kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah)

Pelan-pelan saya mulai memahami dan melihat bahwa alkitab itu konsisten, Tuhan kita adalah Tuhan yang konsisten.  Hal yang menjadi pertanyaan mulai terjawab.  Sekarang alkitab menjadi jauh lebih jelas dari sebelumnya.  Mengapa demikian? Karena fokus saya berubah dari berpikir bahwa dunia berputar mengelilingi saya (I, Me, Myself) menjadi Tuhan kita, Yesus menjadi pusat dari segala sesuatu didunia ini… Cara baca alkitab pun berubah.

 – Dulu saya diajarkan bawa alkitab itu ditulis kepada saya, sekarang saya mengerti bahwa alkitab bukan ditulis kepada saya tetapi kepada orang pada jaman itu yang berguna untuk saya.  Misalnya kita tahu bahwa Yesus datang untuk bangsaNya Yahudi, makanya kotbah di bukit itu adalah ditujukan kepada orang2 Yahudi yang nongkrong di bukit tersebut yang tentu saja dasar percaya mereka adalah hukum taurat.  Disitu Yesus ingin menyatakan kepada mereka kejernihan dan betapa tingginya standar dari hukum taurat itu.  Tujuannya supaya jika mereka mengerti, mereka akan sadar bahwa memang tidak ada yang bisa penuhi hukum taurat oleh karena itu Yesus ingin membawa mereka melihat dan datang kepada Dia sebagai Jalan, Kebenaran dan Hidup.

 – Dulu saya diajarkan kalau baca alkitab itu, cari dimana sayanya dan apa yang harus saya lakukan.  Sekarang saya mengerti kalau baca alkitab cari dimana Tuhan Yesusnya dan apa yang Dia sudah lakukan untuk saya.  Misalnya saya dulu pernah diajarkan bahwa murid yang paling dikasihi Yesus adalah Yohanes.  Dikarenakan ada ayat yang menyatakan “murid yang  dikasihi Yesus” dan itu direfer kepada Yohanes.  Saya pikir kok Tuhan pilih kasih yah seperti manusia.  Belakangan saya baru tahu, kalau pernyataan itu hanya ada diinjil Yohanes dan disebutkan sebanyak 5 kali oleh dirinya sendiri.  Awalnya saya pikir Yohanes ngaku-ngaku sendiri alias GeEr…  Namun saat saya perhatikan lagi ternyata kelima-limanya menyatakan hanya “murid yang dikasihi Tuhan” saja, dan tidak dikatakan lebih atau paling dikasihi artinya setiap kita yang percaya Yesus sebagai Tuhan berhak mengatakan hal yang sama.  Saya adalah murid yang dikasihi Tuhan. Kemudian dikonfirmasi dengan pernyataan Yohanes  sendiri di 1 Yohanes 4:16a yang mengatakan “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita…” Didalam salah satu versi bahasa Inggris dikatakan know and rely upon the love of Jesus. Saat kita berfokus kepada apa yang Tuhan lakukan kepada kita, kita menemukan kebenaran bahwa Tuhan mengasihi setiap kita tanpa memandang perbedaan dan kasihNya dashyat dan kekal.  Oleh karena itu kita bisa seperti Yohanes mengatakan bahwa saya adalah murid yang dikasihi Tuhan dan bersandar kepada kasihNya yang membuat kita menjadi lebih dari pemenang.

 – Dulu saya diajarkan alkitab ditulis dari Kejadian sampai Wahyu semua ditujukan untuk saya.  Sekarang saya mengerti kalau baca alkitab harus menarik garis antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru supaya bisa melihat konsistensi dari alkitab itu sendiri. Dan kebangkitan Yesus sebagai awal dari Perjanjian Baru.

Misalnya: dulu saya diajarkan mengenai kutuk keturunan yang ada didalam hukum taurat (Perjanjian Lama). Setiap kali saya tidak berhasil didalam sesuatu hal, saya akan mulai  cari-cari dan merekah-merekah dimana letak kesalahan saya.  Bahkan salah satu yang sering saya pikirkan adalah apakah ini karena akibat dari kesalahan orang tua atau kakek nenek saya.  Perjalanan salib Yesus adalah pusat dari berita Injil kasih karunia.  Setiap yang Yesus alami didalam perjalanan salibnya memiliki suatu arti signifikan bagi kita.  Oleh karena itu setelah Ia menyelesaikan semuanya atau setelah menebus semua yang harus Ia tebus, Dia mengatakan “Sudah Selesai”, kemudian Ia menundukkan kepalaNya dan menyerahkan nyawaNya.

Pernahkah anda berpikir mengapa saat Yesus mengatakan Aku Haus, yang diberikan bukanlah air tetapi anggur asam (bahasa Indonesia bilang cuka tetapi di Ortodox Jewish Bible dan New American Standard dikatakan sour wine).  Di Yehezkiel 18:2 dikatakan  “Ada apa dengan kamu, sehingga kamu mengucapkan kata sindiran ini di tanah Israel: Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu?”. Dalam bahasa Inggris buah mentah itu disebut sebagai sour grapes.  Perhatikan Sour Wine dan Sour Grapes.  Bukankah kedua-duanya adalah anggur.  Kesimpulannya apa?  Bahwa terakhir yang Yesus tebus di salib sebelum Dia katakan sudah selesai adalah kutuk keturunan.  Bukankah bahwa ini adalah berita baik?

 – Dulu saya mencoba mengerti Tuhan melalui keterbatasan kata-kata manusia.  Sekarang saya baru mengerti bahwa anugrah dan kasih Tuhan itu lebih dari yang dapat diungkapkan dengan kata-kata atau bahasa manusia. Saya pernah dengar ada yang berkata kalau bahasa Indonesia hanya ada sekitar 90.000 an kosa kata sedangkan bahasa Inggris punya 3 juta an kosa kata.  Bahkan dengan berapa milliar kosa katapun tidak cukup untuk mendeskripsikan kasih dan anugrahNya yang begitu berlimpah.  Oleh karena itu sering terjadi misinterpretasi karena banyak ketidak tepatan dalam terjemahan.  Belum lagi dari bahasa aslinya ke Inggris saja sudah ada yang meleset.  Misalnya takut akan Tuhan diterjemahkan dari bahasa Inggris yang mengatakan “fear of the Lord” yang kalau dari bahasa aslinya terjemahannya harusnya adalah extravagant respect.  Sekarang bagaimana itu kata diterjemahkan ke Indonesia? Hormat yang luar biasa…?  Yang pasti kata takut itu mengandung makna negatif. Saat saya takut sama sesorang saya akan cenderung menghindar dari orang tersebut.  Jadi terjemahannya itu kurang tepat.  Oleh sebab itu sekarang sebagai seorang guru sekolah minggu, saya tidak lagi berdoa agar anak-anak ini takut akan Tuhan melainkan agar mereka dapat mengenal kasih Tuhan yang luar biasa dalam hidup mereka.  Dan banyak lagi tips yang lain dalam membaca alkitab yang silahkan yang lain tambahkan. 

 Namun prinsip dasarnya adalah mulai merubah dari I, Me, Myself kepada Jesus dan karyaNya yang sempurna. Sehingga saya bisa melihat bahwa injil Kasih Karunia itu adalah sepenuhnya Good News/Berita Baik.

 Masalahnya adalah apakah kita sudah bisa melihat bahwa ini adalah berita baik bagi orang percaya?  Selanjutnya apakah kita percaya kepada berita baiknya tanpa pakai jikalau, hanya saja, seumpama, andaikata….?

 Manusia suka berandai-andai untuk sesuatu yang belum terjadi.  Tidak ada kata andaikan untuk Tuhan kita.  Kuasa dan anugrahNya melebihi pengertian kita.  Bahkan untuk sesuatu yang sudah terjadi, saat Lasarus sudah dikubur, Marta dan Maria berandai jikalau Tuhan bisa datang lebih awal saudaranya tidak akan mati.  Mati dan sudah dikubur 4 haripun, tidak ada artinya bagi Tuhan kita.  Dia akan selalu datang dengan berita baik.

 Tidak ada orang yang kalau sudah ketemu Tuhan akan malas,  yang ada hanya orang percaya yang belum mengenal siapa dirinya dan mengenal siapa Tuhannya.  Tidak mungkin kalau seseorang mendapat kerjaan banyak terus dia tinggal tidur, kecuali memang orang itu sedang sakit.  Sama seperti Petrus, jalanya penuh dengan ikan kok bisa ditinggal pergi?  Rasanya aneh malah sebaliknya bisa sampai lupa atau tidak sempat makan karena kerjaannya banyak.  Dan bahkan butuh bantuan karena berkatnya berlimpah.

 Setiap orang akan mengalami masalah atau badai dalam hidup,  namun yang dibutuhkan hanyalah percaya bahwa kita adalah seorang pemenang dan bahkan lebih dari pemenang oleh karena kasihNya.  Seringkali saat ditengah badai, kita suka lupa siapa yang sedang bersama dengan kita.  Itulah yang dialami oleh murid-murid Tuhan Yesus. Mereka panik, dan berkata bahwa mereka akan binasa lalu membangunkan Yesus.  Setelah Yesus bangun dan meneduhkan badai, dua pertanyaanNya yang perlu selalu kita ingat, mengapa kamu takut? Mengapa kamu tidak percaya?

 Percayalah bawa Injil/Gospel = Good Spell = Berita Baik, yang ada hanyalah berita baik.  Saya mau kasih satu personifikasi yang di hiperbola mengenai berita baik dari Tuhan kita, kalau Dia mau bikin seluruh isi neraka menjadi selamat pada akhirnya, Dia bisa dan sanggup dan itu adalah hak Dia dan terserah Dia, kita tidak punya hak untuk protes ini dan itu…. Justru kita bersukacita karena seluruh keluarga, sanak saudara dan teman2 kita selamat…

 Didalam Injil kasih karunia, Jesus is our all in all, semua dari Dia, untuk Dia dan kepada Dia, semua kemuliaan hanya bagi Dia saja.  Artinya tidak ada kitanya… Kalau ada satu titik saja dari kitanya didalam pikiran kita, itu bukan lagi anugerah dan Dia bukan lagi our all in all.  Pekerjaan kita adalah hasil dari hidupNya didalam kita.  Dia yang ada didalam kita mengekspresikan hidupNya.  Itulah misteri yang sudah disimpan selama berabad-abad, yang dibukakan kepada Rasul Paulus yaitu Kristus di dalam kita adalah pengharapan kemuliaan.

 Jika ada satu titik saja yang kita berpikir karena hasil usaha kita, kalau berhasil kepala tambah gede sedikit alias sombong dan kalau gagal hatinya mengecil sedikit alias kecewa.

 Injil kasih karunia adalah injil Kristus Yesus yang berfokus kepada Dia dan bukan berandai-andai dengan kondisi manusia karena kondisi apapun manusia itu tidak valid bagi Dia (selalu ada jalan keluar /selalu ada  berita baik). Yang perlu kita pelajari adalah mengenal kasih, kuasa dan anugerahNya yang berlimpah atas hidup kita dan bersandar kepada semua itu…  Trust HIM!!!

2 Comments Add yours

  1. danielyuwono says:

    Saya inget waktu kecil saya ngelamun ngeliatin pohon. Mama tanya “kamu ngeliatin apa sih?” Saya jawab ” itu lho, kenapa ya daun itu bisa goyang2 gitu?” Mulai beranjak remaja, saya mulai tanya sama teman2 n pendeta “kenapa sih Tuhan menciptakan manusia?” Ada yang jawab “untuk memuliakan Tuhan?” Saya pikir “Tuhan gila hormat kali ya? Kayanya engga deh.” Ada yang jawab “Untuk menjadi objek kasih-Nya Tuhan.” Saya berpikir lagi “Tuhan kok kesepian?” Ketika saya beranjak pada umur seperempat abad lebih saya mendengar cerita teman saya yang divonis dokter beberapa saat lagi akan meninggal. Saya mulai berpikir “Jika saya berada di detik2 terakhir kematian, apa yang akan saya pikir ya? Lalu saya berpikir tentang banyak sekali pertanyaan2 saya tentang hidup ini. Seumur hidup manusia, manusia mencari rahasia dibalik sesuatu dibalik langit biru, rahasia dibalik sesuatu yang dianggap rohani, bahkan rahasia tentang sesuatu yang abstrak dibalik semua yang terlihat nyata. Dari mulai Plato, Aristoteles, Aquinas, Calvin, dll berpendapat tentang segala sesuatu yang abstrak melalui filsafat2nya. Sebentar lagi mungkin aku akan mengerti tentang misteri yang keren itu.” Hahaha ^_^

  2. harsoyo says:

    Saya mengartikan bahwa ajaran Yesus adalah bukan sekedar hanya untuk berbuat baik kepada sesama tetapi lebih dari hanya berbuat baik saja karena dampaknya akan membuat diri kita sendiri yang memperoleh ketenangan jiwa dan achirnya membawa kita kedalam kedamaian,kesuksesan,kepercayaan dan so on ……….thanks tuhan Yesus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s