Memberi di Perjanjian baru. bag 2

4 PRINSIP MEMBERI DI PERJANJIAN BARU

Di bagian pertama seri ini, kita sudah jelas bahwa perpuluhan adalah bukan kewajiban bagi orang Kristen.

Lalu sebagai orang percaya yang baik, karena kita sudah bebas dari hukum Taurat, apakah lalu kita tidak perlu memberi? Dibawah adalah prinsip prinsip memberi untuk orang orang percaya. Memberi tanpa prinsip dibawah, terpaksa, dibawah tekanan dan lain2 alasan tidak akan membawa dampak yang baik bagi kita yang memberi. Mari kita belajar memberi dengan prinsip yang benar sehingga hal ini akan menghasilkan manfaat yang besar baik bagi pemberi, penerima, maupun pelebaran kerajaan surga.

Tuhan kita adalah Tuhan yang suka memberi. Sebagai orang percaya seharusnya kita dengan suka cita memperlakukan saudara kita dengan atribut yang sama dengan sebagaimana Tuhan memperlakukan kita. Kita seharusnya menjadi orang yang murah hati, dan suka memberi. Ada empat prinsip utama dalam memberi yang benar dimata Tuhan.

1. Memberi dengan murah hati.

Perjanjian baru tidak pernah menekankan memberi perpuluhan. Perjanjian baru kita diajak memberi dengan suka rela, dengan kehendak bebas kita. Pertanyaannya, berapa besar yang perlu kita berikan.

2Co 9:6,7  Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Saya percaya semua ayat di alkitab adalah dari Tuhan. Namun ayat2 ini sering dipakai secara tidak bertanggung jawab untuk kepentingan fund raising organisasi atau gereja tertentu. Kita adalah orang percaya yang tidak berada dibawah Taurat. Dalam hal memberi, kita bisa melihat teladan Tuhan kita yang sangat bermurah hati kepada kita, dalam hal pengampunan, berkat dan kasih. Maka dari itu dalam hal memberi, kita tidak perlu menghitung hitung persentasi, tetapi berilah dengan kasih dan murah hati.

2Co 3:6  Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.

Dengan memberi, kita bisa mendemonstrasikan iman kita pada kasih karunia Tuhan.

2. Memberi yang terencana.

Prinsip kedua juga bisa didapatkan di 2 Kor 9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, , dalam bahasa inggris disebutkan you should give just as you have decided in your heart. Ini berkata mengenai perencanaan dalam hal memberi. Ketika kita akan berangkat ke kebaktian, kita sudah seharusnya tau kita akan memberi berapa. Pemberian ini merupakan pemberian suka rela yang mengalir dari hati yang bersyukur. Kita memberi bukan karena rasa kewajiban atau mengantisipasi berkat, tetapi keluar dari kehidupan yang diberikan oleh Tuhan yang murah hati. Kita tidak memberi dalam keadaan emosional, tertekan dan impulsive.

3. Memberi dengan suka cita.

Prinsip memberi ke 3 masih di 2 Korintus 9:7b jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Memberi dengan terencana akan menghindari kita dari kehilangan suka cita dalam memberi. Sikap bergembira dalam memberi perlu kita jaga. Jangan memberi dibawah tekanan, dengan bersungut sungut, keputusan impulsif yang mendadak akan menghilangkan suka cita dalam memberi. Saya sering mendengar orang berkata “wah harus memberi lagi, atau dimintai uang lagi”. Kalau kita berkata demikian, sebaiknya kita tidak memberi sama sekali. Memberi dengan suatu tujuan yang terencana akan mengakibatkan kegembiraan dalam memberi.

4. Memberi sesuai dengan proporsi.

Alkitab perjanjian baru tidak pernah memberi patokan persentasi dalam hal memberi. Prinsip ke empat dalam hal memberi adalah memberi sesuai dengan proporsi kekayaan dan pendapatan kita. Di 1 Kor 16:2 Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing–sesuai dengan apa yang kamu peroleh–menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang, kita belajar untuk menyisihkan secara proporsional dari pendapatan kita pada permulaan minggu. Ini sesuai dengan ajaran perjanjian baru yang tidak pernah mengikat kita pada peraturan baru. Rasul tidak pernah memberi aturan yang ketat mengenai persentasi. Tetapi setiap ada pendapatan extra, kita hendaknya memberi sesuai dengan proporsi. Selain kita memberi secara teratur, kita juga memberi secara proporsional.

Demikian adalah 4 prinsip utama dalam memberi. Memang ada beberapa prinsip di perjanjian baru yang lainnya, tetapi dengan menjalankan ke empat prinsip ini, kita sudah melakukan sesuai dengan spirit dari perjanjian baru. Kita jangan pernah memberi karena tekanan, impulsif, dengan terpaksa. Kita jangan pernah berusaha “membeli berkat” dengan memberi persembahan. Tetapi kita memberi dengan murah hati, terencana, dengan gembira, dan proporsional dengan kekayaan dan pendapatan kita. Artikel ini bukan memberi beban pada kita dan mewajibkan untuk memberi, tetapi tujuannya adalah memberi kita kemerdekaan sehingga dalam memberi kita melakukan sesuai dengan kasih Tuhan yang melimpah atas hidup kita.

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s