Melihat perumpamaan Hakim yang Jahat dengan benar

Persistent_Widow-300x260Cara baru yang penting dalam melihat kisah mengenai wanita dan hakim yang jahat.

 

Saya dahulu sangat percaya kepada kemungkinan doa yang terjawab bergantung dengan seberapa “ngotot” dan konsisten kita memanjatkan.  Saya berpikir, dengan berdoa lebih lama, sering diulang, dengan berlutut, bersungguh sungguh, dan selalu diulangi lagi, maka doa saya akan lebih yakin dijawabNya. Sekarang saya tidak percaya itu lagi. Tuhan tidak butuh saya untuk meyakinkan Dia untuk melakukan apa yang saya mohon.

Lukas 18:2-8 Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!  Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? 

 Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”

Berdoa untuk meyakinkan Tuhan.

Apakah Yesus mengajar pada kita untuk berdoa, berdoa dan berdoa terus menerus tanpa menyerah agar Bapa menjawab doa kita?

Saya pikir cara pandang ini sudah meleset dari yang semestinuya. Yesus menggunakan orang tidak benar sebagai contoh di kisah ini. Yesus menekankan bahwa hakim ini adalah seseorang yang tidak takut Allah. dan tidak menghormati manusia. Dia adalah hakim yang lalim. Hakim yang tidak punya kasih sama sekali. Dia tidak peduli dengan kebutuhan orang, dan harus dibuat kesal sehingga dia harus menuruti permintaan orang yang dengan terus menerus mengemis.

Pada kisah ini Yesus sedang memberikan contoh sebagai sesuatu yang kontras dengan karakter Bapa.

Sebenarnya, Yesus tidak ingin kita diberi kesan bahwa Bapa memiliki sifat seperti Hakim yang lalim  dan tidak punya kasih itu. Seperti kisah2 perumpamaan yang lain, Yesus memberikan argumen yang kontras. Kita akan kehilangan maksudNya kalau kita menganggap Tuhan bersifat seperti hakim itu, tidak peduli akan kebutuhan orang, dan hanya mau meresponi kalau Dia sampai terganggu. Tidak, point yang Yesus sedang ungkapkan adalah,”bahkan hakim yang tidak takut Allah, tidak peduli dengan manusia saja bisa di persuasi untuk melakukan sesuatu bagi kita, seberapa lebih lagi Bapa yang penuh kasih akan meresponi seruan hati kita”.

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s