Mengapa ada penderitaan dibumi.

image

 

Yohanes 9:(1) Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. (2) Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?”

Rupanya murid murid Yesus masih belum dapat melepaskan diri dari ajaran agama mereka, walaupun sudah menjadi murid. Agama mereka mengajarkan suatu hukum yang mirip Karma, dimana setiap ada penderitaan, itu disebabkan oleh dosa, baik itu dosa diri sendiri atau dosa orang lain termasuk dosa keturunan. Mereka masih terpengaruh orang farisi. Bagaimana dengan kita, orang orang percaya 2000 tahun kemudian? Kelihatannya banyak dari kita masih memakai mentalitas yang sama. Setiap kali ada kejadian yang tidak mengenakkan, kita selalu mencari siapa yang berdosa.

Saya teringat ketika negara bagian New Orleans terkena serangan badai KATRINA, begitu banyak menelan korban, baik jiwa manusia maupun harta benda, beberapa pengkhotbah muncul di Televisi. Mereka mencari siapa yang dipersalahkan. Mereka berkata bahwa walaupun New Orleans termasuk Bible belt, banyak orang Kristen yang mempraktekkan vodoo, atau kuasa gelap, sehingga Tuhan sangat marah dan memporak porandakan daerah itu, termasuk daerah yang tak berpenghuni, dan tidak ada harta bendanya. Mentalitas orang farisi, harus mencari siapa yang berdosa. Benarkah demikian?

Beberapa tahun yang lalu kami melayani seorang ibu yang menderita kanker. Dia begitu beriman, selalu ingin buat persekutuan disamping ranjang kematiannya. Kamu selalu berdoa untuk kesembuhan dia. Tetapi akhirnya dia dipanggil pulang karena kankernya sudah menjalar ke mana mana. Saya begitu kaget ketika ada teman berkata bahwa Ibu ini tidak sembuh karena belum mengampuni seseorang, dan itu dosa. Seorang yang lain berpendapat bahwa dia punya dosa yang tersembunyi, yang belum bertobat. Benarkah demikian? Saya tidak tau.

imagePendapat orang orang Kristen jaman sekarang sungguh berbeda dengan yang Yesus katakan, bahwa kebutaan orang itu bukan akibat dari dosa.
Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi (7) dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.
Yesus tidak mencari siapa yang dipersalahkan, Dia melihat kebutuhan orang itu, dan Dia memberikan apa yang dibutuhkan, yaitu pengelihatan. Setelah orang itu berjalan cukup jauh dan membasuh matanya dengan air dari kolam namanya berarti yang diutus, seperti orang yang berdosa yang dibaptis di sebuah kolam, maka orang itu matanya yang dahulu buta, menjadi melek.

 

Dalam berbagai diskusi dan ajaran, kita sering mendengar agar Yesus menjadi teladan kita. Saya dulu kurang mengerti bagian mana dari hidup Yesus yang perlu kita teladani. Orang sering berkata “semua”. Namun berkata semua, lebih membingungkan, dan akhirnya kita tidak meneladani apapun. Tujuan tulisan ini, bukan ingin membuat pembaca merasa bersalah karena kurang menolong. Saya ingin mengajak para pembaca untuk meneladani sebagian kecil dari kehidupan Yesus saja yaitu “tidak melihat dosa didalam penderitaan, tetapi lihatlah kebutuhan orang yang menderita.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s