Alkitab digunakan seperti Oija Board

image

APAKAH ANDA MEMPERLAKUKAN ALKITAB SEPERTI PAPAN OUIJA*? Phil Drysdale   *Papan Ouija = papan permainan arwah, ditandai oleh alfabet, angka 0-9, kata ‘yes’, ‘no’, ‘hello’ (kadang-kadang) dan ‘goodbye’. Mirip dengan permainan jailangkung di Indonesia. Saat bertumbuh sebagai orang Kristen, saya bolak balik kembali ke Alkitab saat saya membutuhkan. Pikiran saya saat itu adalah “Alkitab sebagai Firman Tuhan pasti memiliki semua jawaban atas masalah hidup saya”. Memperlakukan Alkitab sebagai buku jawaban ketimbang sebagai undangan untuk berhubungan dengan Allah adalah cara jitu untuk menuai frustasi. Karena Allah memang tidak pernah memaksudkan Alkitab dibaca dengan cara demikian. Alkitab adalah kumpulan menakjubkan dari surat-surat, lagu, puisi, amsal, hukum, sejarah, nubuatan dan lainnya. Tidak ada yg dimaksudkan sebagai ‘kunci jawaban‘ untuk permasalahan hidup. Semua, tentu saja, ditulis dengan tujuan. Dan dengan tujuan itu kita diperlengkapi lebih baik untuk menghadapi apapun yg terjadi dalam hidup. Tapi tujuannya sendiri adalah menghubungkan pembacanya dengan Allah. Mendorong mereka memiliki hubungan dengan Allah, dan bahkan suatu ketika, seperti Yakub, bergulat dengan Allah. Jika kita membaca Alkitab hanya sebagai buku peraturan, hasilnya adalah frustasi. Kenapa? Karena 9 Dari 10 kali, Alkitab tidak memberi kita aturan main. Kalaupun ya, seringkali ayat yg satu terlihat bertentangan dengan ayat yang lain.   BUKU MANUAL YANG PALING JELEK. Contohnya adalah kitab Amsal. Kitab ini dianggap sebagai buku pedoman sederhana menjalani kehidupan. Tapi, nyatanya tidak sesederhana itu. Kitab ini menyediakan permata kebijaksanaan.. tapi kita harus hati-hati menggunakannya. Misalnya, datang seorang bodoh kepada anda dan bercerita kepada anda ttg segala kebodohannya. Apa yg anda lakukan? Segera anda akan mencari di kamus alkitab kata ‘bodoh, bukan? Anda menemukan Amsal 26:4 “Jangan menjawab orang bodoh sesuai dengan kebodohannya, supaya kamu jangan jadi seperti dia” Tapi kemudian anda menemukanimage ayat ini, Amsal 26:5 “Jawablah orang bodoh sesuai dengan kebodohannya, supaya jangan ia menganggap diri bijak”. Lho? Ayolah Tuhan. Buku petunjuk macam apa ini? APA YANG TERJADI? Keduanya adalah sama-sama nasehat yang berharga. Tapi dibutuhkan kebijaksanaan kapan harus dipergunakan. Tanpa hubungan dengan Tuhan, amsal itu hanya akan menyusahkan anda. Alkitab bukanlah cara Allah memberitahu anda apa yg benar dan apa yg salah. Ya memang ada kalanya seperti itu. Contohnya : Dalam PL tampaknya Tuhan menghalalkan pembunuhan atas musuh. Tapi Yesus datang dan bilang (dan beberapa nabi PL juga bilang hal serupa) : “Kekerasan bukan cara Allah. Kasihi musuhmu”. Dalam PL, Allah bilang siapapun yg menjamah orang lepra/kusta, menjadi tidak tahir. Tapi Yesus menjamah orang orang kusta, dan org kusta itu tahir! Saat Allah memberi hukum, Dia memberi instruksi detil tentang apa yg harus dipersembahkan, bagaimana harus dipersembahkan, untuk menutupi dosa apa. Tapi Daud dan bbrp nabi PL bilang Allah tidak menginginkan persembahan. PB katakan Yesuslah persembahan kita sekali untuk selamanya. Jadi mana yang benar? Bunuh musuh, atau kasihi mereka? Menyembuhkan yang sakit, atau singkirkan mereka? Persembahkan sapi dan domba, atau bersandar pada persembahan Kristus? Kita harus membaca Alkitab BUKAN sebagai buku aturan/panduan, tapi sebagai hubungan yang berlangsung dan terus berlanjut antara Allah dengan manusia. Allah masih terus mengungkapkan diriNya hingga hari ini. Kita masih terus belajar lebih banyak tentang Dia saat kita menyelam dalam ayat-ayat bersama Dia. Ya, itu kuncinya… BERSAMA Dia. Yang banyak terjadi adalah kita membaca Alkitab tidak dgn cara demikian. ANDA MAU MENYONTEK? Saya suka matematika. Dan saat guru kami memberi buku soal-soal, saya suka berusaha menyelesaikannya. Tapi tentu tidak semua suka matematika kan? Lantas apa yg teman-teman saya lakukan? Mereka mengintip ke kunci jawaban di bagian belakang buku saat guru tidak melihat. Masalah selesai. Tapi, mereka tidak pernah belajar sesuatu. Mereka akan selalu butuh kunci jawaban. Sama halnya dengan membaca Alkitab. Kita malas bergulat dengan apa yg tertulis disitu. Kita malas melihat konteksnya, belajar latarbelakang dan budaya saat teks itu ditulis, belajar ttg penulis dan pembaca teks tersebut, dan yang pasti, kita malas bergulat untuk tahu apa maksud Allah lewat teks itu untuk kita saat ini. Kita cuma mau jawaban. Dengan begini, sebenarnya kita sedang tidak menghargai Alkitab dan Allah. Memperlakukan Alkitab sebagai buku peraturan, sebagai manual, sebagai kunci jawaban bagi masalah kita sehari-hari sama artinya dengan mengabaikan bagaimana harusnya Alkitab dibaca. Dengan begini, kita kehilangan cara utama Allah berhubungan dgn kita dan malah menjadikan Alkitab kita sebagai papan oujia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s