Bertingkah atau berbuah?

  
Bertingkah atau berbuah?
Sewaktu kecil, saya sedang berjalan jalan di halaman belakang rumah seorang teman, saya tertarik pada suatu tanaman yang tidak terlalu besar. Tanaman itu berbuah telur, cukup banyak. “Saya kira telur itu dari ayam” saya berpikir. Kemudian diam diam saya dekati tanaman itu, dan mau saya petik buah telur itu. Ternyata setelah saya cabut, “buah”tersebut ternyata hanya cangkang telur yang di tancap kan di ujung tanaman yang runcing itu. Saya telah terkecoh.
KAMU HARUS BERBUAH!” teriak seorang pendeta yang berkarisma. “Kalau tidak berbuah, Tuhan akan tolak kamu, dan neraka sudah menantimu”. Sungguh mengerikan. Buah yang dinantikan Tuhan bukan jiwa jiwa, tetapi buah roh yang sembilan itu. Galatia 5:(22) Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, (23) kelemahlembutan, penguasaan diri. 

Kemudian selama seminggu, saya dan teman teman yang mendengarkan khotbah itu, berusaha “melakukan buah” itu. Yang sedang sedih kehilangan suaminya, memaksa diri suka cita dan tersenyum senyum seperti pasien RSJ, yang biasanya kasar, macho, gerakannya jadi lemah lembut seperti bencong di perempatan jalan, dan sebagainya. APAKAH KITA HARUS BERTINGKAH SEOLAH OLAH KITA BERBUAH? 

  

Ayat2 di galatia 22 dan 23 itu sama sekali tidak berbicara mengenai syarat keselamatan. Ayat2 itu merupakan suatu kontras dengan gaya bahasa Paulus dengan perbuatan daging yang diakibatkan oleh pembenaran dengan menggunakan Taurat. Galatia 5:19) Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, (20) penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, (21) kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu seperti yang telah kubuat dahulu bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Kontras antara perbuatan daging yaitu pembenaran diri dengan kekuatan sendiri, dan buah roh, yang mengandalkan kasih karunia. 
Kita dapat membaca kelanjutan dari ayat2 diatas, maka kita tau bahwa:

– Kalau kita milik Kristus, kita “TELAH” menyalibkan daging.

– Kalau kita telah menyalibkan daging, maka kita “TELAH” hidup dalam Roh

– Kalau kita telah hidup dalam Roh, kita telah dipimpin oleh Roh. 
Bertingkah seperti berbuah, sama sekali tidak mendekatkan kita ke kerajaan surga. Bertingkah seperti seolah-olah kita berbuah, membuat kita merasa puas dengan diri sendiri, dan tidak merindukan buah murni dari Roh Kudus. 

Namun bersandar sepenuhnya pada Yesus dan pekerjaan yang sudah diselesaikanNya, akan membuat kita lebih mudah diubah dari dalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s