PERSEMBAHAN YANG MEMBUAT ANDA DIKENAN. RENUNGAN TENTANG KAIN DAN HABEL.

  
PERSEMBAHAN YANG MEMBUAT ANDA DIKENAN. RENUNGAN TENTANG KAIN DAN HABEL.

Habel adalah anak ke 2 pasangan Adam dan Hawa. Pembacaan Alkitab secara teliti menunjukkan bahwa Habel bukan anak kesayangan. Kain yang anak kesayangan. Allah pernah berjanji setelah Adam Hawa berdosa bahwa seorang keturunan Hawa akan membawa penebusan bagi mereka.
Kejadian 3:15

Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Allah bilang keturunan Hawa akan menghancurkan keturunan si ular. 

Adam dan Hawa percaya ‘seseorang’ ini akan membawa keselamatan bagi mereka. Adam percaya janji Allah itu dan menempatkan imannya pada ‘seseorang’ ini.

Gambaran iman Adam itu tampak di Kejadian 3:20 dimana Adam menyebut/memberi nama istrinya ‘Hawa’, yang artinya ibu semua yang hidup.

ADAM MENGIRA KAIN YANG AKAN MEMBAWA KESELAMATAN

Kemudian manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka kata perempuan itu: “Aku telah mendapat seorang laki-laki [I have brought forth=acquired a man] dengan pertolongan Tuhan .” Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain.

(Kejadian 4:1-2]
Kain bukan sekedar seorang laki-laki, tapi laki-laki yang didapat dari ‘manusia’ itu, dari Adam.

Kain adalah kebanggaan dan kebahagiaan Adam. Anda bisa lihat ini di catatan kaki Alkitab versi NIV. 

Adam disebut ‘manusia’ (the man).

Roh Kudus dengan hati-hati sengaja membuat perbedaan yang menunjukkan bahwa Kain adalah ‘dari’ Adam, bukan dari Allah.
Adam dan Hawa percaya anak mereka Kain adalah penyelamat mereka.

Dalam bahasa Ibrani, manusia (man) adalah ‘iysh’ (H376; אישׁ) berarti laki-laki, pria, suami atau pemenang/juara (champion).

Terdiri dari aksara Aleph (yang pertama, yang terbaik), Yod (tangan terbuka) dan Shin (kebenaran).

Arti ‘iysh’ adalah orang pertama (atau yang terbaik) yang menerima kebenaran.
Maksud Allah menamakan ciptaanNya sebagai ‘iysh’ supaya walaupun manusia itu adalah yang terbaik, ia harus membuka tangannya untuk menerima kebenaran agar benar di mata Allah. 

Kita tahu ‘kebenaran’ yang Allah maksud mengarah pada Yesus dan hanya orang yang menerima Yesus sebagai Hadiah/anugerah dengan tangan terbuka yang dianggap sebagai orang benar.
Adam dan Hawa menganggap Kain sebagai mesias mereka. Sebaliknya dengan Habel.

Habel berarti ‘nafas’ (breath, H1893). Arti nama Habel menunjukkan ia tidak dianggap penting di mata orangtuanya. Habel hidup di bawah bayang-bayang sang abang Kain. Di mata Adam dan Hawa, Kain selalu benar. Karena ia adalah juara mereka. Kain adalah sesuatu yang mereka ‘dapatkan’. 

Sebaliknya, Habel adalah suatu ‘kesia-siaan’. Hanya uap di udara, yang hari ini ada besok tiada.
Habel (הבל) terdiri dari aksara Hei (kasih karunia), Beth (hati atau rumah) dan Lamet (belajar).

Saat Kain menyibukkan diri membuat dirinya dan orangtuanya bangga dengan pencapaiannya mengolah tanah dengan susah payah, Habel menghabiskan waktu menggembalakan ternak sambil mempelajari bahwa hanya dengan kasih karunia sajalah ia bisa bertahan dalam dunia yang penuh penghakiman ini. Ia belajar menyimpan kasih karunia itu dalam hatinya.
Sebagai seorang yang pendiam dan rendah hati Habel tahu Allah tersenyum padanya dengan perkenanan, bukan karena usahanya. Usahanya tak kan ada artinya untuk memampukannya bertahan. Dia hidup di dunia berisi 4 orang dan dia tak dianggap berharga oleh orangtua maupun abangnya. 

Tapi dia dihargai oleh Allah. Karena ia membawa persembahan anak domba. Persembahan yang sama yang Allah berikan ke Adam dan Hawa untuk menutupi ketelanjangan dan rasa malu mereka.

Habel mempersembahkan apa yang Allah berikan ke Adam dan Hawa.

BUKAN ADAM DAN HAWA YANG MENGAJARKAN KASIH KARUNIA PADA HABEL

Anda pasti ingat bagaimana Allah mendandani Adam dan Hawa. Allah tak sekedar menyediakan mereka pakaian. Ia mendandani mereka. 

Sebelumnya, Adam dan Hawa ingin memperoleh pengetahuan mengenai yang baik dan jahat, dari ketidaktaatan itu muncullah kebenaran-diri (self righteous) dan kebenaran-diri itu menghukum mereka. Mereka sadar telanjang di hadapan Allah. 

Allah menutupi ketelanjangan mereka dengan menumpahkan darah binatang. 

Tapi Adam dan Hawa dalam kebenaran-diri mereka tak pernah dengan inisiatif sendiri mengenakan apa yang Allah sediakan.

Allah yang harus memakaikan pakaian itu pada mereka. Adam dan Hawa tak akan memakai pakaian itu atas kemauan sendiri. Mereka lebih memilih daun ara.
Betapa besar keangkuhan manusia.

Di depan Allah yang pengasih mereka bukannya menginginkan kasih karuniaNya, tapi mengharapkan perkenanan yang berdasarkan apa yang mereka lakukan buat Dia.

Saya belum jadi ayah, tapi saya berdoa kasih saya pada anak saya kelak adalah berdasarkan hubungan saya dengannya, bukan apa yang dilakukannya buat saya.
Banyak anak merindukan perkenanan ayahnya, tanpa menyadari bahwa perkenanan itu sudah tersedia walaupun tidak diperlihatkan. Setiap anak adalah ‘biji mata’ ayahnya.
Habel belajar mempersembahkan apa yang ‘dipersembahkan’ Allah bagi orangtuanya. Ini pasti diilhami oleh pewahyuan yang menembus kekeraskepalaan manusia yang menanggap dirinya benar.

Habel pasti sudah memahami dalam hatinya tentang kasih karunia Allah yang hidup, dengan mempersembahkan anak domba. 

Dengan kata lain, Habel menerima pewahyuan dari Allah : bahwa HANYA yang Allah berikan pada manusia yang membuat Allah berkenan dan bersedia diterimaNya sebagai persembahan.

PERSEMBAHAN HABEL ADALAH KUNCINYA

Persembahan Habel adalah titik balik hidupnya. Allah berkenan pada persembahannya (the Lord looked with favor on Abel and his offering; Kejadian 4:4). Orangtua Habel dan seluruh ciptaan melihat bagaimana Allah berkenan pada Habel dan persembahan yang dibawanya.

Dengan membawa persembahan yang menyenangkan Allah, Habel menjadi ‘Manusia’ yang dari keturunannya akan datang ‘juruselamat’.

Persembahan Habel menjadi lambang dan prototipe bagaimana nanti dunia ini, orangtuanya dan saudara-saudaranya yang akan datang akan diselamatkan. 
Dengan persembahan itu seorang laki-laki tak berharga menjadi ‘Manusia’ yang digunakan Allah dan membawa kunci penyelamatan kepada umat manusia yang frustasi ingin menyenangkan Allah.
Persembahan Habel menunjukkan bahwa perkenanan Allah yang membuat manusia menyenangkan Dia. Persembahan Habel menunjukkan bagaimana seharusnya penyembahan yang menyenangkan Allah. 
Hanya persembahan yang berasal dari apa yang Allah berikan yang menyenangkan hatiNya.
Bahkan setelah mati darah Habel terus menyembah Allah. Habel menjadi contoh bagaimana seseorang terus ‘hidup’ bahkan setelah ia sudah mati. Habel menjadi yang pertama dari mereka yang hidup tapi saat ini ‘tertidur’.
Apa yang berubah?

Apa yang membuat perubahan?

Dari seorang yang tak berarti menjadi seorang yang menyenangkan Allah.

Dari seorang yang dianggap hanya sebagai ‘uap’, di mata Allah menjadi seorang Manusia yang menyembah dalam kebenaran dan ‘NAFAS’ dari Allah Roh Kudus.
Jawabannya adalah PERSEMBAHANnya.

Dia memberikan kepada Allah apa yang Allah berikan pada manusia.
Sahabat, yang Allah berikan pada kita, satu-satunya yang menyenangkan hatiNya adalah AnakNya, Yesus.

“INILAH ANAKKU YANG KUKASIHI DAN YANG PADANYA AKU BERKENAN”, kata Allah saat pembaptisan dan transfigurasi AnakNya.

Hal lain tak mampu menandingi.
Kain, di sisi lain, bersandar pada reputasinya, statusnya, kerja kerasnya. Dan membawa pada Allah hasil terbaiknya sebagai manusia.

Dia gagal dan jadi iri. 

Metodologinya dalam membunuh adiknya menjadi gambaran setiap bentuk kejahatan hari ini.

Kebenaran-diri manusia cemburu pada kasih karunia Allah.

Paulus katakan pada jemaat Galatia, daging selalu menganiaya Roh.

Ismael menganiaya Ishak. 

Farisi menganiaya Yesus. 

Orang agamawi dan penuh kebenaran-diri menganiaya Paulus.

Para pengkhotbah ‘Menyenangkan Tuhan dengan MelayaniNya’ menganiaya pengkhotbah ‘Allah sudah berkenan atas kita’.

PAULUS JUGA MENEMUKAN RAHASIA INI DAN DIUBAHKAN

Semua adalah karena Anugerah. Bukan karena usaha.

Karena alasan ini Paulus ‘menyalibkan’ semua pencapaiannya dan menanggapnya ‘sampah’ dalam terang kebenaran yang bukan karena melakukan Taurat. 
Pertobatan Paulus dari iman Kain kepada iman Habel tampak pada kata-katanya :

3karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. 4Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:

5disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,

6tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.

(Filipi 3:3-6)
Paulus menerima kasih karunia Allah tanpa embel-embel apapun lagi, menerima kebenaran yang tidak tergantung pada keinginan menyenangkan Allah. Tapi kebenaran yang adalah anugerah, yang membuatnya berkenan di mata Allah.
8Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, 

9dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

(Filipi 3:8-9)
Dia menyebut anugerah ini kebenaran ‘tanpa hukum Taurat’ (apart from the law) :

Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.

(Roma 3:21-22)

DENGAN KEMATIANNYA, HABEL MENUNJUKKAN BAHWA PERJANJIAN BARU LEBIH BAIK DARI YANG LAMA

Anugerah/pemberian itu yang membuat anda benar.

Bukan apa yang anda berikan pada Dia. 

Kita tak bisa persembahkan apapun selain Yesus dan Allah tak bisa menerima apapun selain Yesus. 

Dengan kematiannya Habel menunjukkan bahwa perjanjian yang lebih baik adalah kasih karunia, bukan usaha manusia yang didasari hukum.
Banyak yang bilang Allah hanya berkenan pada hambaNya yang setia. 

Paulus bilang ini pada jemaat Galatia,
3Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia.

4Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.

5Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.

6Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

7Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan ANAK; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah AHLI-AHLI WARIS, oleh Allah.

(Galatia 4:3-7)
Paulus menunjukkan bahwa siapapun yang memilih menyenangkan Allah dengan melakukan hukum Taurat adalah BUDAK.

Hanya yang ada di bawah kasih karunia Allah yang disebut sebagai ANAK. 

AHLI WARIS.

TAK SEMUA ORANG KRISTEN SADAR DIRINYA ADALAH ANAK

Tidak setiap orang mengalami pengalaman sebagai anak. 

Dalam suratnya kepada jemaat Galatia, Paulus menegur,
Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? Hanya ini yang hendak kuketahui dari pada kamu: Adakah kamu telah menerima Roh karena melakukan hukum Taurat atau karena percaya kepada pemberitaan Injil?

(Galatia 3:1-2)
Gereja sedang mundur kembali ke bawah Taurat setelah dimerdekakan oleh kasih karunia. 

Taurat sesungguhnya adalah usaha manusia berjerih lelah menyenangkan Allah.

Itu agama Kain.
Jika anda memilih menyenangkan Allah dengan usaha manusia anda, bahkan jika anda seorang Kristen, anda masih punya mentalitas budak.
Oswald Chamber pernah berkata bahwa berhala paling berbahaya dalam hidup kita adalah berpikir bahwa kita bisa melayani Dia yang tidak dilayani oleh tangan manusia.
Galatia 4 katakan Taurat membuat kita jadi budak, tapi kasih karunia membuat kita jadi anak. Budak melayani dibawah paksaan, melayani karena terpaksa. 

Seorang anak tak perlu melayani tapi ia dapat memilih untuk melayani.

Hal kesetiaan tidak bisa diterapkan pada budak, karena budak memang HARUS melayani. Dia tak punya pilihan. Seorang anak, sebaliknya, punya pilihan. 

Agar seseorang bisa dihadiahi piala ‘hamba setia’, pertama-tama ia harus bebas untuk melayani.

Hanya anak yang memiliki seperti kebebasan itu.
Yesus membuat kita menjadi anak menurut gambarNya. Yesus melayani BapaNya dan kita. Dia melayani sebagai pilihan dan dalam kasih.

Kita sebagai anak adalah pelayan sejati. Kita melayani karena Yesus mengajar kita melayani karena pilihan dan dalam kasih. 

Kita melayani karena kita bebas memilih untuk melayani, bukan karena kita harus melayani.
Yesus menyebut Habel sebagai orang benar sekalipun yang dia lakukan hanyalah menyatakan imannya dengan mempersembahkan sesuatu yang Allah berikan pada Adam dan Hawa.
“supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, orang benar itu, sampai kepada Zakharia anak Berekhya, yang kamu bunuh di antara tempat kudus dan mezbah.

(Matius 23:35; lihat juga Lukas 11:50-51)
Habel memberikan kepada Allah apa yang dimata Allah dipandang sempurna. 

Hanya YESUS yang sempurna.
Darah Habel menjerit menuntut pembalasan bersama dengan “… darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus” (Wahyu 17:6), bersama dengan darah Yesus sendiri yang berbicara lebih kuat daripada darah Habel (Ibrani 12:24).

HABEL YANG ‘LEBIH BAIK’

Ada yang namanya perjanjian lama, yang menuntut darah atas darah, dimana ada darah hewan pengganti yang ditumpahkan bagi orang yang berbuat dosa. 
Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian … 

(Keluaran 24:8)
Tapi Yesus adalah “… Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, … untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama” (Ibrani 9:15), dan dengan darahNya, “… hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat” (Ibrani 10:22) dan “… hati nurani kita disucikan dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibrani 9:14).

Yesus menebus ‘ras’ Kain yang hati nuraninya kotor, jahat dan tertuduh. 
Sahabat, Habel mungkin orang pertama yang masuk surga. Habel bisa masuk ke surga dengan mempersembahkan kebenaran yang diperolehnya sebagai anugerah/hadiah dari Allah. 

Kita juga akan memasuki surga dengan kebenaran yang sama, yang bukan karena melakukan Taurat. 

Kebenaran ini adalah SESEORANG. Pengantara Allah dan manusia. MANUSIA YESUS KRISTUS.

Datang pada Bapa dan persembahkan padaNya sesuatu yang bukan usaha anda –Yesus– dan biarkan Yesus melayani Bapa di surga melalui anda.
Oleh kasih karunia Allah dan bagi kemuliaanNya.
[Simon Yap : The Gift that Wins You Favor. Thoughts of Cain and Abel]

https://hischarisisenough.wordpress.com/2013/02/06/the-gift-that-wins-you-favor-thoughts-of-cain-and-abel/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s