SEBAIK APA SAYA MEMAHAMI KASIH KARUNIA SEBELUM SAYA MEMAHAMI KASIH KARUNIA

SEBAIK APA SAYA MEMAHAMI KASIH KARUNIA SEBELUM SAYA MEMAHAMI KASIH KARUNIA  
Pernahkah anda melihat gambar-gambar 3 dimensi yang pada pandangan pertama tampak acak, tapi kemudian memunculkan gambar tersembunyi? Mungkin butuh waktu agak lama dan bantuan orang lain untuk menjelaskan gambar tersembunyi apa yang ada di balik keacakan itu. 

“Itu … lihat … ada kapal. Kapalnya besar!”. 

Mungkin anda awalnya tak bisa melihatnya dan berpikir orang lain yang berusaha menjelaskan kepada anda itu hanya mengada-ada. Sampai tiba-tiba.. gambar itu muncul. Dan tanpa malu anda berseru, “Aku lihat, aku lihat!”.
Itu yang terjadi pada saya dan kasih karunia.
Saya kenal orang-orang yang membaca Alkitab dan menemukan kasih karunia radikal, tapi saya tidak. Sampai suatu hari, pewahyuan itu datang dan saya bisa melihat Kasih Karunia! Dia ada di setiap halaman dan dalam setiap kitab. 

Sekarang, saat membaca kitab Perjanjian Lama dengan mata yang baru saya sering berkata pada diri sendiri, “Ini tentang Yesus! Aku tak pernah melihatnya demikian sebelumnya”.

Sekarang, setelah melihatNya sekali saya melihatNya dimana-mana. Saya diselamatkan dan lahir baru satu dekade lalu dan mengasihiNya sepenuh hati. Tapi saat saya menerima pewahyuan kasih karuniaNya yang mengagumkan, rasanya seperti kembali lahir baru.
Saya pikir saya sudah memahami kasih karunia dengan baik. Tapi saat Kasih Karunia itu benar-benar jadi fokus, saya sadar saya hampir tidak memahami kasih karunia sama sekali. Saat melihat ke belakang saya mencatat ada 9 tanda yang menunjukkan bahwa saya belum memahami kasih karunia.

1. Dulu saya pikir saya diselamatkan oleh kasih karunia, tapi tidak tahu bahwa saya juga dijaga oleh kasih karunia.

Saya menerima kasih karunia dengan iman tanpa usaha apa-apa, tapi saya tidak ‘tetap’ berada di dalam Dia dengan iman yang sama.
Kolose 2:6

Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu TETAP di dalam Dia.
Sekalipun tak pernah saya ungkapkan, saya masih menambahkan ‘sedikit usaha’ saya. Kehidupan saya adalah ‘lakukan, lakukan, lakukan’; bukannya ‘sudah, sudah, sudah’, 

Tak ada ketenangan. Yang ada adalah kecemasan mengenai performa saya. 

Selalu ada rapat yang harus dipimpin, kebenaran yang harus saya ajarkan atau domba tersesat yang harus dirangkul. Saya pikir ini normal. 

Saya senang dengan topik menyelamatkan orang lain, tapi saya tidak ‘menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan’ (Yesaya 12:3).

Saya mengalami stres berkepanjangan dan memperlakukan kasih karunia sebagai ‘pelumas’ mesin saya.

2. Saya merasa ‘wajib’ melayani

Yesus sudah melakukan segalanya buat saya, apa yang bisa saya lakukan buat Dia?

Saya tidak pakai kata ‘berhutang’, tapi sesungguhnya yang saya lakukan termotivasi oleh keinginan membayar hutang. 

Saya menganggap murah ‘kekayaan kasih karuniaNya’ (Efesus 1:7) dengan berusaha membayar padaNya hadiah tak ternilai yang diberikanNya pada saya secara cuma-cuma.

Tak terhindarkan, hal ini menggeser fokus saya dari Dia dan karyaNya kepada saya dan usaha saya.

Bukannya terpukau dengan apa yang Dia lakukan, saya malah berusaha membuat Dia terpukau dengan apa yang saya lakukan.

3. Saya memotivasi orang lain dengan ‘hadiah dan hukuman’

Karena motif saya ‘ngaco’, tak bisa tidak saya juga mengajarkan hadiah dan hukuman kepada yang lain. 

Berbuat baik, terima yang baik. Berbuat jahat, terima yang buruk.

Saya mengajar melawan legalisme, tapi pada saat yang sama saya menempatkan orang kembali ke bawah legalisme. 

‘Injil’ yang saya bagikan ibarat asbak penuh kata ‘tapi”.

Allah mengasihi kamu, tapi…

Yesus mati buat kamu, tapi…
Hanya ada satu motif di kerajaan Allah, KASIH.

Anak Manusia datang bukan untuk menakuti, mengancam, mengintimidasi, menghakimi atau menghukum kita. Tapi untuk mendemonstrasikan kasih (Roma 5:8).
Penginjilan yang benar bukanlah menakuti orang mengenai neraka. 

Kabar baik yang dunia perlu dengar adalah Allah itu kasih dan Ia mengasihi kita.

Perjanjian baru kasih karunia adalah ekspresi kasih setiaNya yang tak pernah berubah bagi kita (Yesaya 54:10).

4. Saya menganggap diri saya sebagai hamba, bukan anak.

Identitas saya dulu terletak dalam apa yang saya lakukan, bukan dalam Bapa saya.

Saya memandang diri saya sebagai ‘pekerja’ Allah, bukannya anak yang melakukan ‘pekerjaan Bapa’.

Saya tidak katakan saya dibenarkan oleh usaha saya karena saya tahu kasih karunia dan usaha manusia tak bisa bercampur (Roma 11:6). Tapi sebenarnya saya sedang mencampur keduanya seolah tak ada hari esok.

Sekalipun saya lebih banyak mengkhotbahkan kehambaan ketimbang posisi sebagai anak, anehnya setiap kali menghadapi krisis, saya berhubungan denganNya sebagai Papa saya. Tapi saat saya kuat dan sehat, kembali saya tergoda oleh ‘kebutuhan’ untuk melakukan sesuatu buat Dia. Untungnya, saya banyak menghadapi krisis.

5. Saya terus meminta Allah menyediakan apa yang sudah Dia sediakan.

Saya tahu saya bisa mendekatiNya dengan berani untuk mendapat pertolongan dan menemukan kasih karunia di saat saya membutuhkan, tapi saya tak tahu bahwa Dia SUDAH memberikan ‘segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh’ (2Petrus 1:3).

Saat seseorang sakit, saya minta mereka disembuhkan padahal harusnya saya yang menyembuhkan mereka (Matius 10:8).

Saya minta lebih banyak iman, bukannya menghidupi iman Anak Allah yang ada di dalam saya (Galatia 2:20).

Seperti si sulung, saya pikir Allah memberkati saya jika saya melakukan bagian saya.
Saya tak sadar bahwa saya sudah diberkati, sangat dicintai dan amat dikenan.

Dalam ketidakmengertian, saya telah membuang begitu banyak waktu melakukan hal yang tak ada artinya.

Saya pikir saya aktif dan berbuah, tapi sebenarnya saya tak menggunakan iman saya.

6. Saya lebih sadar dosa (sin-conscious) daripada sadar Kristus (Christ-conscious)

Seperti banyak orang Kristen lain, saya takut pada dosa dan tidak mau bergaul dengan orang berdosa.

Saya ajarkan bahwa solusi dosa adalah pertobatan. 

Saya sudah baca bahwa kasih karunia Tuhan mengajar kita menolak segala kefasikan (Titus 2:12), tapi tak yakin bagaimana cara kerjanya.

Jadi saat berkhotbah melawan dosa saya menggunakan insentif ‘murahan’ seperti ketakutan dan hukuman, yang menuntun orang kepada perubahan perilaku sementara yang berdasarkan kekuatan kemauan. 

Saya lebih menekankan pada apa yang harus kita lakukan (bertobat!) ketimbang apa yang sudah Allah lakukan buat kita (mengampuni kita).

Saya lebih fokus pada ‘kita’ ketimbang pada ‘Dia’. Hasilnya, khotbah saya ‘tidak berdaya’. 

Jika ada jemaat yang gagal menang atas dosa, saya ‘menuduh’ mereka belum berkenalan dengan kasih karunia Allah yang mengubahkan, sementara saya tidak mengenalkan mereka sama sekali.

7. Saya selalu berusaha melakukan hal benar

Seseorang yang di bawah kasih karunia berkata, “Saya mempercayai Dia dari awal hingga akhir. Dia menuntun saya di jalan kebenaran”

Namun dengan cara tak kentara saya lebih memilih aturan ketimbang hubungan.

Yang saya dambakan adalah tuntunan Alkitabiah yang jelas untuk menjalani hidup. 

Saya pikir saya memilih yang benar. Seperti Adam.

Saya memiliki roh ‘independen’ yang mendorong saya makan dari pohon yang salah.

Saya merasa tersanjung saat orang datang pada saya untuk minta petunjuk. Saya pikir saya sedang memberi mereka hikmat. Padahal yang harusnya saya lakukan adalah membiarkan mereka bersandar pada Yesus (Yohanes 10:27).

8. Saya memiliki hubungan yang lebih kuat dengan Firman yang tertulis ketimbang dengan Sang Firman yang hidup.

Saya mempelajari Alkitab bukan untuk menemukan Yesus (Lukas 24:27), tapi untuk tahu apa yang harus saya lakukan.

Saya membaca Alkitab secara pukul rata dan sering dibingungkan oleh ayat-ayat yang tampaknya saling bertentangan satu sama lain.

Solusi saya ketika itu adalah menyeimbangkannya. Sedikit yang ini, sedikit yang itu.

Tapi karena saya gagal membaca lewat filter karya salib, tanpa sadar saya meracuni diri sendiri. 

Saya mencampur Taurat yang menuntun kepada kematian dengan kasih karunia yang memberi kehidupan.

Sekalipun saya pikir bernyala-nyala buat Allah, sebenarnya saya ‘suam’, karena mencampurkan keduanya.

Saya tidak berada di bawah Taurat yang sedingin loh batu, tapi juga tidak berada di bawah cinta dan kasih karuniaNya yang tanpa syarat dan panas berkobar.

9. Saya tahu saya benar, tapi tidak ‘merasa’ benar

Saat tersandung saya lebih cepat mengambil tindakan mengaku dosa kepada Allah ketimbang membiarkan Roh Kudus mengingatkan saya tentang anugerah kebenaran dariNya (Yohanes 16:10).

Saya tahu saya ciptaan baru (2Korintus 5:17), tapi dalam banyak hal saya bertindak dan bicara seolah saya hanya ciptaan lama yang ‘ditingkatkan’.

Saya pikir kejujuran mengenai pergumulan saya adalah kunci untuk mendapatkan lebih banyak kasih karunia.

Tapi mungkin saya tak perlu bergumul sebanyak itu jika saja sejak awal saya belajar melihat diri saya sebagaimana Dia melihat saya – ditebus, benar dan kudus.

Saya percaya kasih karunia datang lewat pewahyuan. Jika anda masih belum ‘melihat’ kasih karunia itu, anda mungkin menganggap artikel ini sebagai omongan melantur seorang yang ‘tidak seimbang’. (Syukurlah saya tidak seimbang. Saya sudah jenuh dan lelah ‘menyeimbangkan’).

Jika anda melihat kasih karunia, pasti saat ini anda sudah bergetar seperti garpu tala.
Saya akan akhiri dengan sepatah-dua patah kata untuk kelompok pertama. Harap sabar melihat kami yang melompat kegirangan karena kasih karunia. 

Jangan tinggalkan gambar 3D itu dengan cemberut, “Aku tak lihat apa-apa tuh!”.

Teruslah memandang!

Kasih karunia itu ada persis di depan anda. Dan Dia besar!!

[Paul Ellis : How Well I did understand grace before I understand grace?; 27 May 2011]
http://escapetoreality.org/2011/05/27/did-i-understand-grace-before/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s