Menyalahgunakan Anugerah

  
Menyalahgunakan Anugerah 

Arie Saptadji
“Jangan mengajarkan anugerah secara berlebihan! Pengajaran anugerah yang tidak seimbang mendorong orang hidup secara sembrono, leluasa melampiaskan hawa nafsu, tidak takut bermain-main dengan dosa. Perhatikan apa yang dikatakan firman Tuhan dalam Yudas 4: ‘Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah menyusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang fasik yang menyalahgunakan anugerah Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus.'”

 

Begitu pandangan sebagian orang yang menganggap ajaran tentang anugerah berpotensi disalahpahami sebagai kelonggaran untuk berbuat dosa. Tepat sasarankah pandangan ini? Benarkah anugerah dapat disalahgunakan? Dan, benarkah hal itu yang diperingatkan Yudas dalam suratnya?

 

Pertama, perlu ditunjukkan bahwa terjemahan LAI untuk ayat ini kurang akurat. Kata “metatiqhmi” kurang tepat jika dialihbahasakan menjadi “menyalahgunakan”. Konkordansi Strong menjabarkan artinya sebagai berikut:

 

1) to transpose (two things, one of which is put in place of the other)

1a) to transfer

1b) to change

1c) to transfer one’s self or suffer one’s self to be transferred

1c1) to go or pass over

1c2) to fall away or desert from one person or thing to another

 

Bisa disimpulkan bahwa “metatiqhmi” mengandung arti “membuang sesuatu dan menggantikannya dengan hal yang lain”.

 

Berdasarkan pengertian tersebut, terjemahan versi The Message lebih akurat: “What has happened is that some people have infiltrated our ranks (our Scriptures warned us this would happen), who beneath their pious skin are shameless scoundrels. Their design is to replace the sheer grace of our God with sheer license—which means doing away with Jesus Christ, our one and only Master.”

 

Terjemahan bebasnya: “Ada oknum-oknum tertentu yang menyelusup masuk ke tengah-tengah kita (Kitab Suci sudah memperingatkan kita akan hal ini), mereka adalah orang-orang bejat yang bertopeng kesalehan. Maksud mereka adalah MEMBUANG anugerah Allah dan MENGGANTIKANNYA dengan kelonggaran untuk melampiaskan hawa nafsu–dan dengan demikian menolak Yesus Kristus, satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita” (huruf besar dari saya).

 

Jadi, Yudas 4 tidak berbicara tentang orang yang “menyalahgunakan” anugerah. Menyalahgunakan berarti memakai secara salah atau memanfaatkan secara keliru. Kalau kita menggunakan obeng untuk makan nasi goreng, kita memakai obeng secara salah. Kalau kita menggunakan gigi untuk menggigit kuping tetangga, kita keliru memanfaatkan fungsi gigi. Kita menyalahgunakan: kita menggunakan obeng dan gigi, namun secara salah.

 

Penyalahgunaan anugerah kira-kira juga seperti itu: memakai atau memanfaatkan anugerah secara salah. Hal ini bisa terjadi karena seseorang belum paham betul apa itu anugerah atau ia memang secara kurang ajar sengaja memanfaatkan anugerah itu secara ngawur. Orang yang bisa menyalahgunakan anugerah, dengan demikian, adalah orang yang percaya pada anugerah. 

 

Kecenderungan untuk menyalahgunakan anugerah ini diluruskan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma. Dan, solusinya bukanlah “menyeimbangkan” pengajaran tentang anugerah, melainkan justru harus menggali lebih dalam apa itu sesungguhnya anugerah, semakin melekat erat pada anugerah, agar orang percaya bertumbuh dalam anugerah dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

 

Nah, Yudas tidak berbicara tentang orang yang menyalahgunakan anugerah. Yudas tidak berbicara tentang orang yang percaya pada anugerah. Akan tetapi, Yudas menyoroti orang yang justru menolak sama sekali anugerah itu, membuangnya, menganggapnya tidak berguna, dan menggantikannya dengan sesuatu yang lain, yaitu kelonggaran untuk melampiaskan hawa nafsu, atau dalam istilah modern: hedonisme. Ya, kalau kitab Galatia dapat disebut sebagai pemaparan “anugerah vs. legalisme”, maka surat Yudas mengupas “anugerah vs. hedonisme”.

 

Solusinya? Orang itu harus berbalik arah. Alih-alih membuang anugerah dan menganut hedonisme, ia perlu membuang hedonisme dan memberi diri untuk direngkuh oleh anugerah.

 

Jadi, orang yang menyalahgunakan anugerah perlu bertumbuh dalam anugerah, adapun orang yang membuang anugerah perlu berbalik dan menyambut anugerah. Bagi keduanya, solusinya terpusat pada anugerah.

 

Nah, kalau begitu, orang yang ketakutan akan “pengajaran anugerah yang terlalu berlebihan” tadi tampaknya belum menyadari betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya anugerah Allah itu. Dengan kata lain, ia juga memerlukan anugerah untuk melenyapkan ketakutannya tersebut! *** (Arie Saptaji)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s