MENGAPA KITA TIDAK ‘MENGALAMI’ PENGAMPUNAN?

  
Saya membaca sebuah artikel mengenai 1Yohanes 1:9 yang mengatakan bahwa ada perbedaan antara pengampunan posisional dan pengampunan parental. Dikatakan di artikel itu, sekalipun kita diampuni secara posisi, kita harus mengaku dosa-dosa kita untuk mengalami pengampunan parental/relasional.
Saya benci dosa, saya mendukung hidup yang kudus. 

Tapi …. 
Alkitab TIDAK mengajarkan bahwa hubungan anda dengan Bapa di surga akan terputus jika anda punya dosa yang belum anda akui.

Pasti ada dari anda yang segera bilang, “Bagaimana dengan Daud?”.

Tapi Daud di lagu yang sama bicara tentang betapa beruntungnya orang yang kepadanya Tuhan berikan kebenaran bukan karena perbuatannya.
Roma 4:6-8

6Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya: 7“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya; 8berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.”
Daud sedang bicara tentang suatu angkatan yang dosanya TIDAK HANYA diampuni tapi yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya. Daud bicara tentang orang-orang yang percaya pada Yesus setelah Yesus mati (sayang Daud hidup sebelum Tuhan Yesus mati, jadi dia harus mengaku dosanya).
Mengkategorikan pengampunan seperti dalam artikel itu, sama dengan mengatakan bahwa sekalipun saya sudah diampuni, saya tetap harus terus memohon pengampunan supaya MENGALAMInya.
Maaf, saya tidak setuju.

Bagi Tuhan, pengampunan adalah masalah hukum atau yuridis. Bukan masalah parental. 

Kita harus mengerti bahwa Allah menjadi Bapa kita karena kita ada dalam AnakNya. 

Allah mengampuni kita karena kita dalam AnakNya. Bukan karena kita minta ampun.

Jadi masalah parental tak ada kaitannya dengan pengampunan kita.

Mengapa walaupun tahu kita sudah diampuni, mengerti kita sudah diampuni, percaya kita sudah diampuni, mengkhotbahkan bahwa kita sudah diampuni, tapi tetap belum mengalami pengampunan?
Penulis kitab Ibrani mengenali masalah ini,
Ibrani 10:1-2

1Hukum Taurat hanyalah bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. 

2Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya.

Masalah sebenarnya bukanlah apakah anda mengalami pengampunan atau tidak, tapi masalah kesadaran/hati nurani.

Hati nurani anda yang menghakimi anda.

  
Bagaimana caranya?

Dengan selalu mengingatkan anda untuk melakukan sesuatu dalam upaya memperoleh pengampunan.

Hal yang anda lakukan untuk memperoleh pengampunan justru adalah hal yang terus mengingatkan anda tentang dosa-dosa anda.

Yang datangnya dari Taurat. 

Masalahnya bukan dari Tuhan, tapi dari hati nurani anda sendiri. 
Anda mungkin berargumen, “Bukankah hati nurani adalah sesuatu yang Tuhan berikan untuk memberitahu mana yang benar mana yang salah?”.

Ya, benar.

Tapi hati nurani tak sekedar memberitahu mana yang benar mana yang salah. Ia juga memberitahu anda, “Kamu salah. Kamu bersalah. Tuhan gak suka sama kamu”.

Jadi, hati nurani anda yang menjauhkan anda dari Tuhan.

Ia tidak menjauhkan Tuhan dari anda.

Jika ya, Tuhan pasti tidak akan mencari Adam saat Adam berdosa.

Adam yang bersembunyi dari Tuhan.
Masih gak yakin?
Kita baca lagi Ibrani 10 ayat 2 dan 3,

2Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. 

3Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa.
Korban persembahan tidak mampu membuat orang jadi sempurna karena mereka tetap merasa bersalah karena dosanya. 
Penulis surat Ibrani menyodorkan solusi di ayat 2. 

Jika korban persembahan itu mampu menyempurnakan, kita hanya perlu mempersembahkannya 1X.

Jika harus berkali-kali, berarti tak mampu.

Kenapa tak mampu?

Karena persembahan itu TIDAK MAMPU MENGHAPUS DOSA. 

Catat, saya katakan menghapus (take away), bukan menutupi (covers) atau membersihkan (washed) dosa.
Ayat 4

Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan (take away) dosa.
Disini letak masalahnya : banyak yang berpikir darah Yesus membersihkan atau menutupi dosa.

  
Bukan. 

Dia datang untuk menghapus dosa.

Dan bukan cuma dosa masa lalu. Karena jika hanya dosa masa lalu, maka hati nurani kita akan menghantui kita untuk dosa di masa datang.
Lanjut …
Ibrani 9:11-14

11Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, — artinya yang tidak termasuk ciptaan ini, —
12dan Ia telah masuk SATU KALI UNTUK SELAMA-LAMANYA ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah MENDAPATKAN PENEBUSAN YANG ABADI (obtaining eternal redemption).
13Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah, 
14betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan MENYUCIKAN hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup.

Persembahan yang dibawa oleh Yesus dipersembahkan di kemah yang sempurna. 

Di surga, bukan di bumi.
Persembahan itu dipersembahkan SEKALI UNTUK SELAMA-LAAAAAAAAMAAAAAANYAAAAAAAAAAA!
Dengan persembahan darahNya sendiri Dia melakukan penebusan yang abadi.

Yang apa?

Penebusan yang AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAABADI.
Bagaimana itu dipersembahkan?

Oleh Roh yang kekal.
Ibrani 10:15-17

15Dan tentang hal itu ROH KUDUS juga memberi kesaksian kepada kita,  

16sebab setelah Ia berfirman: 

“Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,” Ia berfirman pula: “Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka,  

17dan Aku TIDAK LAGI MENGINGAT dosa-dosa dan kesalahan mereka.”
Darah Yesus dipersembahkan oleh/melalui Roh yang kekal saat Dia berkata, “Ya Bapa, ke tanganMu Kuserahkan RohKu”.

Itu adalah tindakan yang terjadi 1X untuk selamanya yang memiliki konsekuensi kekal.
Pengampunan TIDAK AKAN PERNAH DIULANG untuk menjadi solusi masalah hati nurani.

Hati nurani anda yang menjauhkan anda dari Tuhan, bukan ketiadaan pengampunan Allah.
Yesus mati 1X untuk selamanya. Artinya anda diampuni 1X untuk selamanya.

Tak ada yang bisa digunakan oleh hati nurani anda untuk menuduh anda lagi.

Sehingga anda bisa sungguh-sungguh mengalami pengampunan.

Ibrani 10:22

Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita TELAH DIBERSIHKAN dari hati nurani yang jahat (guilty conscience) dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.
Bagaimana bisa bersih?
Ibrani 10:11-12

11Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang SAMA SEKALI TIDAK DAPAT MENGHAPUSKAN DOSA.

12Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia DUDUK untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah.

Perhatikan, seorang imam tak pernah duduk karena pekerjaannya mempersembahkan korban tak pernah selesai. Harus diulang lagi dan lagi. Karena persembahan yang dibawanya sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa.

Mereka tak bisa duduk.
Sebaliknya dengan Yesus, Dia MENGHAPUS dosa.
Berapa kali Dia harus melakukannya? 

SATU KALI UNTUK SELAMANYA.

Lalu Dia DUDUK.

SATU-SATUnya cara mengalami pengampunan Tuhan adalah BERSYUKUR padaNya untuk pengampunanNya yang 1X untuk selamanya itu.
Bolak balik minta ampun supaya diampuni, menurut saya adalah bentuk modern pengorbanan sapi dan domba.

Tindakan ini memberi kuasa kepada hati nurani untuk mengingat dosa, bukannya mengalami pengampunan.

Lama-lama, anda makin merasa tak yakin mengenai karya Yesus yang sempurna.
Lalu, gimana? Terus berdosa dan tak usah minta ampun?
Saya sudah bilang saya benci dosa.
Ingat Ibrani 10:1, bukan kasih karunia yang menuntut ritual minta ampun ini. Tapi Taurat.
Kuasa dosa adalah Taurat (1Korintus 15:56) dan satu-satunya cara anda bisa lepas dari dosa adalah memastikan dosa bukanlah ‘bos’ anda lagi. 
Roma 6:14 Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.

Kita sering tak jujur pada diri sendiri. Masalahnya bukan ada pada Tuhan. Tapi pada nurani kita.

Fakta Alkitab bilang dosa kita sudah dihapus, Tuhan tak mengingat dosa kita.

Tanpa mengetahui dan mempercayai bahwa Tuhan sudah mengampuni kita, kita tak akan mengalami pengampunan.
Jika ingin mempertahankan hubungan dengan Tuhan, jangan baca 1Yohanes 1:9. Ayat itu bukan buat anda.

Bacalah 1Korintus 1:9

Allah itu setia, Dia yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita.
Nomor 1. Hubungan anda dengan Tuhan TIDAK tergantung pada kesetiaan anda. Tapi kesetiaanNYA!
Nomor 2. Persekutuan Bapa dengan kita dilakukan sebagaimana Bapa bersekutu dengan AnakNya Yesus. Bapa dan AnakNya TAK PERNAH TERPISAH. 

Demikian pula Bapa dengan anda.
Hati nurani anda sudah dibersihkan.
Alami pengampunan anda.
[Simon Yap : Why are we not experiencing forgiveness?; 18 February 2012]
https://hischarisisenough.wordpress.com/2012/02/18/i-read-an-article/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s