Legalist, pencari loophole, pemanfaat lunaknya hukum

PANAMA PAPER. Berita yang paling menghebohkan saat ini. Ada cara untuk menghindar membayar pajak secara legal, dengan membentuk suatu Shell Company atau perusahaan cangkang di negara yang disebut Tax Haven Countries. Di Indonesia diterjemahkan sebagai Negara Sorga Pajak, mungkin karena kata Haven dikira Haeven oleh penerjemah pertama di sini. Nama nama yang tercantum disana belum tentu sudah melanggar hukum, karena mereka secara legal memanfaatkan celah hukum pajak, atau sering disebut tax loophole.

Seorang muda bertanya pada gurunya :”Rabi, kenapa Anda mengajar babi untuk berenang?”, sang Rabi menjawab, firman berkata bahwa binatang yang berenang boleh dimakan.
Anton, sebagai seorang yang terlalu gemuk, lagi berusaha untuk menurunkan berat badannya yang terlalu berat. Suatu hari dia ingin makan Pizza, dan kemudian diperingati oleh istri tersayang agar dia hanya makan satu saja. “OK” Anton berkata. Kemudian dia menelpon Pizza Hut dan memesan untuk diambil 30 menit kemudian. “Pesan Extra large Meat Lover, dan jangan di slice sama sekali”. Lalu Extra large Pizza itu dihabiskan sendiri. Ketika istrinya menegur Anton, dia berkata “Katanya boleh makan satu?” Padahal sebenarnya dia tau yang dimaksud Istrinya, adalah makan saja satu slice Pizza. Anton tidak melanggar permintaan istrinya, tetapi dia bisa menikmati Extra Large Pizza Meat Lover kesukaan dia dengan kuantitas yang banyak. Dia senang, Dan Istrinya tidak bisa menyalahkan Anton.

Loophole atau celah hukum, adalah kelemahan atau kelunakan didalam hukum yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Loophole, sering dipakai untuk membayar pajak lebih sedikit dari semestinya, namun secara hukum tidak melanggar. Misalnya sebuah perusahaan membatasi omsetnya hanya sampai 4.8M pertahun agar hanya membayar pajak final sebesar 1% saja. Selebihnya, akan dimasukkan dalam CV yang baru. Para konsultan pajak pekerjaan sehari harinya adalah mencari loophole bagi klien mereka.  Kita memang bisa memanfaatkan celah hukum, demi kepentingan kita, walaupun kita tau, itu bukan yang dimaksud oleh pembuat hukum, namun penegak hukum tidak dapat menindak kita, karena kita tidak melanggar.
Hypergrace adalah license to sin?

Akhir akhir ini, di Indonesia dan International, terjadi suatu kekhawatiran atau ketidak sukaan pada aliran yang disebut Hypergrace. Mereka khawatir dengan aliran yang menyatakan dosa masa lalu, sekarang dan akan datang sudah diampuni. “Kalau begitu enak dong, boleh membunuh, boleh berjinah”. Ini adalah pernyataan dari orang yang berhati pencari loophole atau legalist. Asal legal, mereka mau melakukan dengan mengesampingkan hati nurani, melakukan yang jahat dan bisa bebas dari hukuman.
Ada seorang gadis, yang karena pengetahuannya bahwa dosa masa datang sudah diampuni, berpacaran dengan seorang pria yang sudah menikah. Gadis itu berpacaran terlalu jauh, sampai ke ranjang. “Toh dosaku sudah diampuni” kata dia tanpa merasa bersalah dan takut. Saya tidak tau bagaimana kisah perselingkuhan mereka berakhir. Gadis ini adalah seorang legalist, pencari loophole, pemanfaat celah dari lunaknya hukum. 
Di kota yang berbeda, Saya pernah melayani seorang suami yang tidak percaya bahwa dosa masa datang sudah diampuni. Dia berselingkuh dengan karyawatinya. Saya berada di satu ruangan dengan dia, sedangkan istrinya di ruang lain sambil menangis mencurahkan isi hatinya ke istri saya. Saya bertanya, apakah dia tidak takut akan Tuhan, sampai menyeleweng dengan karyawatinya. Jawabannya cukup membuat saya terperanjat. Dia berkata bahwa kalau dia mengakui dosanya, Tuhan setia dan adil untuk mengampuni semua dosa yang dia akui dihadapan Tuhan. Dia melakukan perjinahan di hari kerja, di hari Minggu dia mengakui dosanya, dan mendapat pengampunan. Seorang pria legalist, pencari loophole, pemanfaat lunaknya hukum.


Dari kedua kasus diatas, dua orang yang berbeda pemahamannya. Si gadis memanfaatkan pengampunan dosa akan datang untuk bersenang senang, si suami memanfaatkan janji setia Tuhan, digunakan untuk bersenang senang. Dua paham berbeda, perbuatan yang mirip, kerena mereka berdua adalah legalist, pencari loophole, pemanfaat lunaknya hukum. 


Sebenarnya, baik si gadis dan si suami, kalau mereka mau mendengarkan hati nuraninya, mereka bisa terhindar dari perselingkuhan yang sangat menyakitkan itu. Saat ini, sepertinya di dunia kekristenan ada dua kubu besar, kubu Hypergrace lawan kubu Anti Grace. Kubu dosa sudah diampuni, dan kubu dosa akan diampuni. Namun kalau kita mau melihat lebih dalam, sebenarnya dua kubu yang ada adalah kubu loophole, dan kubu hati nurani.
Semua hukum, baik hukum sebuah negara, atau hukum Tuhan yang ditulis manusia, ada loopholes, ada celah hukumnya. Kalau kita tidak mau menyatakan hukum Tuhan memiliki celah, kita bisa ganti dengan kelunakan hukum Tuhan. Maka dari itu, di perjanjian baru, Tuhan mengganti semua hukum yang tertulis, baik di batu maupun di gulungan kertas, menjadi hukum yang tertulis dihati kita. 

 


Jangan lagi kita memanfaatkan hukum Tuhan yang tertulis demi kesenangan kita. Marilah kita manfaatkan hukum yang tertulis dihati kita, dimana Roh Kudus menjadikannya sebagai tempat tinggalnya. 


2 Comments Add yours

  1. Theo Thomas says:

    Luar biasa Pak. Itulah yg terjadi jika org Kristen hanya memiliki agama tanpa hubungan & pengenalan yg benar.
    Sayangnya gereja lebih suka agamawi dari pada pengenalan & hubungan yg benar dgn Tuhan.

  2. Bro Julius says:

    Bagus, bro Nug… ! (Y) (Y)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s