Tujuh cara manipulasi jemaat. 

1. Frog in a pot / katak didalam panci.


Ada seorang istri yang suaminya melakukan kekerasan dalam rumah tangga bisa bertahan sampai benar benar maut memisahkan mereka. Sang  istri akhirnya terbunuh tanpa disengaja pada sesi pemukulan yang sudah keterlaluan. Padahal mereka tinggal di negara dimana perlindungan terhadap wanita cukup bagus. Bagaimana dia bisa bertahan setelah bertahun tahun mengalami penyiksaan yang demikian? Ternyata, si suami tidak langsung melakukan kekerasan yang berlebihan. Dia mulai sedikit demi sedikit. Dari nasihat teman teman dan gereja, wanita itu diminta bertahan dan tunduk terhadap suami, karena kekasarannya masih bisa dimaafkan.  Namun semakin lama mereka hidup, kekerasan dan kekejaman meningkat. Sang istri juga semakin lama semakin merasakan kekerasan suami adalah normal. Tidak ada teman teman gerejanya pun yang memberi nasihat untuk melakukan tindakan. Akhirnya wanita ini terbunuh dalam kekerasan yang terjadi oleh suami yang marah diluar kendali. Sedikit demi sedikit, lama lama menjadi biasa.
Kalau kita memasukkan seekor katak di air yang panas, katak itu tidak akan tahan dan akan langsung meloncat. Tetapi masukkan katak di air yang dingin di sebuah panci. Lalu letakkan panci diatas kompor yang menyala. Maka air itu akan menjadi hangat, dan semakin lama akan mendidih. Katak yang didalam panci itu akan diam saja, walaupun segera akan membunuh dia, karena suhu air itu naik perlahan lahan.

Saya sering heran dan kagum akan beberapa teman yang berjemaat di suatu gereja yang abusive. Berbagai ajaran yang tidak sesuai dan kebohongan  diajarkan. Tuntutan untuk memberi dan melayani dilakukan diluar batas normal, disertai ancaman ancaman. Tidak setuju dengan pimpinan merupakan dosa yang membawa maut, dan satu kata saja yang salah mengenai pemimpin, bisa kena lepra seperti Miriam dan yang pasti akan mengalami pengucilan. Dia bisa datang di kebaktian dan teman2 baiknya mendadak tidak dapat mengenali si pengkritik dan diperlakukan lebih buruk dari seekor lalat.

Ketika saya bertanya pada seorang pria apakah dia suka dengan keadaan seperti itu, setelah menoleh kekiri dan kekanan untuk memastikan tidak ada orang lain, dia berkata “sebenarnya tidak suka, tetapi saya tidak dapat meninggalkan gereja itu”. Istrinya sebulan sekali mendapat tugas mengedarkan kantong persembahan dan dia sendiri suka diminta mengatur parkir.

Pemimpin gereja melakukan ancaman, kebohongan, ajaran yang salah dan pelecehan sedikit demi sedikit, disisipkan diantara ajaran yang sehat, sehingga ketidak benaran itu semakin lama menjadi kebenaran di telinga jemaat. “Lies told often enough will become truth ” Vladimir Lennin. Kebohongan yang diulang ulang, akan menjadi kebenaran bagi jemaat. Sisipan sisipan ajaran “jangan jamah yang diurapi” diantara ajaran yang baik, menjadikan ayat itu sebagai ayat yang paling bisa diingat jemaat. Itu adalah ayat kunci untuk melindungi pemimpin yang manipulatif.

Kalau Anda berada didalam situasi seperti ini, belum tentu Anda dapat merasakannya, karena dilakukan secara perlahan lahan. Kalau ada teman yang memperingati, jangan langsung ditolak, tetapi perhatikan nasehat teman teman. Kemungkinan mereka benar. Bukan berarti Anda harus memberontak atau meninggalkan gereja. Yang pertama perlu Anda lakukan adalah sadari dan mulai belajar firman sendiri. Begitu banyak ajaran sehat yang dapat kita peroleh dari Internet atau pengajar lain. Pelajari bagaimana kita dapat membedakan antara kebohongan dan pelecehan, dan kebenaran. Kedua, jaga hati agar tidak timbul kepaitan, dan ambil langkah seperlunya.

Bersambung….

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s