Cara memanipulasi jemaat bag 4 (terakhir)

  
Sambungan dari bag 3. 

Bertahun tahun yang lalu ketika saya masih kuliah di Los Angeles, setiap 2-3 bulan saya bersama teman-teman ke Las Vegas. Selain ingin mencoba keberuntungan, saya juga suka mengamati orang yang baru main. Pada suatu malam, ketika saya berada di deretan mesin slot (Jack Pot) yang panjang, ada seorang nenek nenek berteriak. Sirene berbunyi keras, lampu seperti di mobil polisi berputar putar. Suasana menjadi gaduh. Terdengar suara gemerincing coin silver dollar sepertinya tidak habis-habis. Tidak lama kemudian para petugas casino datang berkerumun memberi selamat pada wanita tua itu. Lalu dia diajak naik panggung, di foto, di interview, dan diberi ceck raksasa sebesar $14,500. Sungguh suasana yang menggembirakan. Dia ditanya apa yang akan dilakukan dengan uang kemenangannya. Keesokan harinya saya baca berita itu di koran lokal. 

Mengapa kejadian yang menyenangkan itu menjadi berita? Mengapa ribuan pengunjung Las Vegas yang kalah tidak masuk berita? Karena kalah di Las Vegas bukan berita. Dengan di publikasi, itu akan memotivasi para pembaca untuk main lebih lagi. Saya juga berkata pada diri sendiri, “Aku juga mau, mau mencoba lebih lagi“.
Di suatu gereja, kedatangan pembicara dari Luar Negeri. Khotbahnya sangat meyakinkan, membuat orang dapat mengalir mengikuti arah berpikirnya. Dia banyak memberi contoh yang spektakuler, dimana orang yang memberi ke pelayanannya diberkati luar biasa, sampai 100 kali dari pemberian mereka. Sangat menarik, tetapi karena contoh2 yang disampaikan tidak kita kenal maka saya berpikir, belum tentu benar kisahnya. Khotbah diakhiri dengan janji bahwa Tuhan akan mengembalikan taburan malam itu sedikitnya 30 kali. Saya melihat lebih dari separoh jemaat berbondong bondong maju kedepan memberi uang kepada “Tuhan” melalui orang tersebut. 

Tiga bukan kemudian Hamba Tuhan yang sama datang lagi. Kali ini seorang teman maju dan bersaksi. Dia menabur Rp 3 juta. Seminggu kemudian dia berhasil memperantarakan sebidang tanah yang bernilai tinggi, dan dia menerima keuntungan dan komisi sebesar Rp 1.2 milliard. Saya yakin dia mengatakan yang benar karena saya kenal dia pribadi. Malam itu ketika diminta untuk memberikan korban, hampir 80% pengunjung maju dan memberikan persembahan yang banyak. 

Mendengar kesaksian orang yang kita kenal, membuat kita percaya dan menginginkan hal yang sama. Metode yang dipakai beberapa gereja, mirip dengan metode Las Vegas, dimana sedikit orang yang beruntung diminta bersaksi dan dipublikasi. 

Saya pernah belajar statistik. Maka dari itu saya mencoba melakukan survey kecil kecilan. Saya mendapatkan sample 14 orang yang menabur. Ternyata 9 dari mereka tidak mendapatkan berkat Extra, dan bahkan keadaan keuangannya tambah tidak sehat. 1 orang berkata hasil dari dia menabur adalah dia tidak dipecat dari perusahaannya, padahal waktu itu ada banyak pengurangan karyawan di tempat dia bekerja. 4 orang berkata mereka “belum” mendapatkan kembali, dan mereka berketetapan  memberi lebih lagi, karena mereka percaya pemberian yang pertama kurang banyak. 

Secara ilmu statistik, ketika kita memberi dengan harapan kembali berkali kali lipat, sangat besar kemungkinan kita tidak mendapatkannya.  Kita akan kecewa karena dari sekian ribu orang, hanya 1-2 org yg mendapatkan kembali berlipat ganda. Dan itupun belum tentu disebabkan oleh pemberiannya. Saya menanyai teman yang mendapatkan kembali 400 lipat itu. “Apakah Anda pasti kalau memberi pasti kembali berlipat ganda?”  Dia berkata pasti. Ketika saya usulkan kalau memang pasti mengapa tidak memberikan yang 1,2M, dan nanti bisa menjadi 100 milliar, dia kelihatan marah “Kamu tidak beriman” laku dia pergi meninggalkan saya. 
Di Las Vegas mesin mesin judi itu di set untuk mengembalikan dalam persentasi tertentu dan itu di control oleh sebuah badan pengawas. Misalnya tertulis 97%, berarti setiap 100 coin, maka secara rata rata akan keluar lagi 97 coin. Memberi seorang hamba Tuhan, tidak ada garansi berapa persen akan kembali. 1-2 orang beruntung, akan dipakai untuk memotivasi memberi lebih lagi. 

Sebaiknya ketika kita memberi, berilah untuk menolong orang atau institusinya. Berilah dengan suka cita, dan tidak perlu mengharapkan kembali. 

Sebetulnya masih banyak lagi cara memanipulasi. Tujuh cara ini, kalau kita pelajari dan mengerti, sudah cukup agar kita bisa bebas dari cara cara yang tidak jujur itu. 

Kalau artikel ini menolong Anda, saya persilahkan share ke teman teman dan saudara yang Anda kasihi. 

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s