Warisan telah aku terima

  
Samsul lahir di keluarga yang miskin. Anak ke lima dari delapan bersaudara. Orang tuanya meninggal ketika dia berumur 12, dan itu memaksa dia mulai bekerja dengan berjualan permen di perempatan jalan. Dari saudaranya, Samsul adalah yang paling suka mencari uang, dan akhirnya dia berhasil membuka Warung kebutuhan sehari hari. 
Singkat cerita, Samsul akhirnya berkeluarga dan memiliki satu putera. Dia jadi orang yang terkaya di kampungnya. Namun Samsul tidak hanya menggunakan uangnya untuk diri sendiri. Dia menyekolahkan keponakan2 dia yang 18 orang sampai selesai SMA, dan ada tiga yang disekolahkan sampai lulus universitas. Putra tunggalnya, Yohanes, bersekolah di Amerika sampai meraih gelar S2. 
Sebelum meninggal, Samsul berpesan kepada Yohanes, agar dia menggunakan warisannya untuk memastikan agar saudara sepupunya tidak sampai kekurangan dan tidak dapat bersekolah, dan mencukupi semua kebutuhan ibu tirinya. (Ibu Yohanes telah meninggal ketika melahirkan dia). Dan kemudian bapak yang baik ini meninggal dalam usia yang relatif muda, dan meninggalkan seluruh harta pada anak tunggalnya. Yohanes ternyata pandai mengelola warisan itu dan dia semakin kaya. 
Selang beberapa tahun, ibu tirinya yang mulai sakit sakitan dimasukkan di rumah jompo milik suatu yayasan Kristen yang bertujuan untuk menolong orang miskin. Adik Samsul terkena serangan jantung, dan membutuhkan 200 juta untuk menjalani operasi. Akhirnya dia meninggal karena tidak punya cukup uang. Di pemakaman, anak dari paman itu mau pinjam uang untuk menyelesaikan kuliahnya. Permintaan itu ditolaknya dengan alasan, Anak Yohanes juga mau masuk SMP, dan itu membutuhkan biaya cukup banyak. 
Yohanes memiliki sahabat bernama Amir. Suatu hari Amir yang mengerti akan pesan Samsul agar Yohanes memperhatikan saudara2 nya berkata: “Yo, bukankah Ayahmu minta kamu menolong sepupu2 mu ?”. Yohanes menjawab dengan santai “Ya itu kan dulu. Sekarang warisan itu sudah milikku, dan terserah aku cara penggunaannya”. Dia berkata bahwa sepupunya bodoh, menolong dia akan membuang uang. Memang warisan sudah ditangan Yohanes. Ayahnya tidak dapat membatalkan, tentunya. Namun Yohanes, karena warisan sudah ditangannya, dia tidak mempedulikan pesan ayahnya. Dia tidak perlu menolong saudaranya agar mendapat warisan. 

Yohanes :”Aku tidak perlu menolong saudaraku agar aku dapat warisan.”

Seandainya Samsul dapat melihat tingkah laku Yohanes yang tidak mengindahkan pesan-pesannya, pasti dia sungguh sedih. 
Kita sebagai orang percaya, sudah menerima warisan yang jauh lebih berharga dari yang Yohanes terima dari Samsul. Kehidupan kekal bersama Dia. 

Apakah karena warisan itu sudah kita terima, kita akan mengabaikan pesan pesan pemberi warisan kita? 

Apakah kita akan berkata mentaati pesan Dia itu tidak perlu karena tidak akan menambah besarnya warisan yang sudah kita terima?

Apakah kalau kita tidak tau, kita tidak perlu mencari tau pesan Tuhan pada kita agar kita lakukan karena kita sudah menerima yang kita inginkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s