Dimana Iman Anda?


Suatu sore di tahun 1997, seorang teman mampir dirumah kami. Dia membawa temannya yang orang Belanda bernama Andrew, seorang hamba Tuhan. Saya menikmati ngobrol dengan dia, orang yang sangat baik dan rendah hati. Sebagai seseorang yang belum lama lahir baru, saya banyak bertanya. Salah satu pertanyaan saya, apa yang harus aku perbuat agar Tuhan menjadikan aku kaya. Dia tersenyum, dan berkata “I don’t know. I’m not rich myself. Work hard, I guess“. Saya pikir, dia kurang mengerti firman, karena di gereja, kami diajar cara2 beriman yang menjadikan kita kaya, kenapa hamba Tuhan yang sudah senior ini tidak tau. Dia juga banyak cerita mengenai penderitaan orang2 Hamas dan Palestina, yang ditekan oleh orang Yahudi. Saya pikir, orang Kristen seharusnya berpihak pada Israel, bukan berteman dengan kelompok Hamas. Saya berpikir bahwa ini hamba Tuhan yang tidak beres, hidupnya tidak diberkati karena tidak memberkati keturunan Abraham, makanya tidak bisa kaya.

Selang beberapa lama, saya membaca sebuah buku, di buku itu, penulis menyebut sebuah buku yang luar biasa tulisan Brother Andrew. Dengan cepat saya cari buku yang berjudul “Secret believers“, saya lihat cover belakangnya, dan foto Andrew, pendeta yang saya anggap tidak mengerti firman itu terpampang disana. Ternyata dia adalah tokoh yang sangat dihormati kalangan Kristen pada waktu itu. Mengapa orang ini berbeda dengan ajaran di gereja2? Mengapa dia tidak mengajar bagaimana kita mendapatkan berkat dari Tuhan? 

James Fowler dalam tulisannya stages of faith membagi pertumbuhan menjadi enam tingkat. Dari tulisan dia saya ingin dapat menilai dimana saya berada, dan tentu juga para pembaca juga bisa memanfaatkan teori tahapan iman dari dia.

Keterangan dari setiap tahap saya dapatkan dari tulisan Fowler, dikombinasi dengan hasil studi saya pribadi dan hasil pengamatan di dunia kekristenan pada khususnya, dan dunia keagamaan pada umumnya. Saya melihat Tahapan iman ini bisa berlaku untuk semua agama, tetapi karena saya tidak terlalu paham akan berbagai agama, maka saya hanya menyoroti dunia kita, dunia kekristenan.

baca juga bertahan saampai selamat.

Mungkin pembaca akan menemukan dirinya sebagian di tahap 2, tetapi juga ada di tahap 3, dan memiliki iman yang sebagian mirip penjelasan tahap 4. Itu normal. Kita tidak harus berada di salah satu tahap, bisa saja di beberapa tahap sekaligus. Walaupun tahap-tahap itu merupakan pertumbuhan iman, kita tidak perlu memaksa diri berpindah ke tahap yang lebih tinggi. Kalau kita mau memaksakan diri, nanti Iman kita tidak nyata. Biarkan iman kita bertumbuh secara natural.
Tahap 1. Intuitif Projektive.

Ini adalah tahap bagaikan bayi yang baru lahir, atau usia sebelum sekolah. Tahap ini, fantasi dan kenyataan bercampur baur. Biasanya konsep akan Tuhan dipengaruhi oleh orang tua, guru2 sekolah minggu dan lingkungan. Tahap ini tidak banyak mengerti secara dalam, semuanya lebih untuk kepentingan diri, Tuhan adalah pelindung. Cerita cerita Daud dan Goliat, Daniel disarang singa adalah ajaran yang disukai dan diterima dengan baik. Biasanya pembaca sudah melampaui tahap ini, dan sudah di tahap berikutnya.
Tahap 2. Mythical-Literal. 

Tahap usia sekolah. Disini kita sudah dapat menyerap ajaran ajaran yang lebih dalam, tetapi ajaran dari Gereja, biasanya diterima secara harafiah. Tidak ada kebenaran diluar kelompok mereka. Mereka masih self-centered, dimana Tuhan adalah untuk kita. Iman biasanya mereka terima dengan hitam/putih, untuk kepentingan diri sendiri. Aturan moral dipegang secara harafiah. Tuhan yang antromorfis dilangit, surga dan neraka dianggap sebagai suatu lokasi nyata. Ajaran yang subur di tingkat ini adalah keselamatan. Yang mereka pikirkan dan kuatirkan adalah hidup kekal dan keselamatan. Ajaran yang akan sangat disukai adalah semua ajaran yang membuat kita hidup lebih nyaman, Prosperity Gospel atau Injil kemakmuran, Radical Grace, dan kesembuhan Ilahi. Word of Faith adalah ajaran yang sangat disukai dan tumbuh subur, karena mereka menerima formula dimana mereka dapat mengatur berkat yang akan mereka terima, baik mengenai kesehatan, kekayaan, dan perlindungan, hanya dengan meyakinkan diri, dan mengucapkan. Namun banyak orang percaya yang seumur hidup tidak dapat beranjak dari tahap ini.
Tahap 3. Synthetic-Conventional

Tahap usia remaja. Ketika mulai timbul kekecewaan karena formula tidak dapat setiap kali berhasil, mereka akan mencari lebih dalam, atau yang menyedihkan, kecewa dan meninggalkan kekristenan sama sekali. Kalau mereka mau menggali lebih dalam, maka mereka akan mencapai tahap ini. Kebanyakan orang percaya tinggal di tahap ini seumur hidupnya. Mereka memiliki beberapa lingkaran sosial disamping kelompok rohaninya. Mereka bisa membedakan antara orang yang hidupnya tidak benar, dan orang2 yang patut menjadi teladan. Disini iman sudah terbentuk lebih dewasa, dan memiliki sistim kepercayaan yang tidak mudah diubah. Apa yang mereka percayai adalah kebenaran absolut. Mereka membutuhkan suatu institusi Gereja, dan mereka akan sangat bergantung pada pimpinan mereka. Namun mereka akan mengalami kesulitan untuk bisa memahami hal hal yang diluar kotak mereka, dan tidak dapat mengerti masih ada kotak kotak lain diluar kotak mereka yang juga mengandung kebenaran. Otoritas adalah sentral, seperti mewakili Tuhan dan tidak bisa dipersalahkan. Mereka akan sangat terganggu kalau iman mereka dipertanyakan orang diluar kelompok mereka, atau akan sangat terganggu kalau ada orang menyodorkan kritik terhadap pemimpin mereka. Kalau di tahap sebelumnya, mereka suka mengandalkan doa saja, sekarang mereka mulai melakukan sesuatu untuk mendapatkan dari Tuhan. Mereka mulai melakukan apa yang diperintahkan Tuhan seperti melayani, memberi, mendoakan, namun sebenarnya mereka melakukan itu karena upah atau tuaian yang dijanjikan ketika mereka taat. Ajaran ajaran yang subur di tahap ini, selain ajaran tahap 2, adalah mengenai jangan jamah yang diurapi, menabur – menuai, perpuluhan dan segala ajaran yang akan mendatangkan berkat. Mereka sangat membutuhkan apa yang disebut tudung rohani agar merasa aman. Kebanyakan akan merasa nyaman tinggal di tahap ini, sampai terjadi suatu krisis, yang menyebabkan orang akan mau mempelajari lebih dalam lagi.

tahap 4 Individuative-Reflective

Tahap dewasa muda. Tidak terlalu banyak yang dapat mencapai tingkatan ini. Diperlukan keberanian untuk melihat diluar kotak. Keberanian ini didapat dari ketidak puasan di kotak yang ada, bisa karena janji janji yang orang dengar ternyata tidak dipenuhi, atau melihat kepicikan di tingkat sebelumnya. Mereka secara kritis mulai memeriksa paham diri dan kelompoknya, dibandingkan dengan paham dari luar kotak yang selama ini mengungkungnya. Kemudian dia secara serius mulai menggali lebih dalam Iman dia sebelumnya, dan menemukan berbagai ketidak sesuaian dengan yang di pelajarinya. Orang2 di tahap ini biasanya banyak melakukan re-learning atau belajar kembali mengenai siapa Yesus Kristus, dan harus banyak unlearning, atau melepaskan paham yang sudah bertahun-tahun melekat di pikirannya. RENEWING Your Mind menjadi ajaran yang disukai disini. Sementara tahap ini, mereka mulai meninggalkan liturgi, dan juga formula formula yang dahulu digunakan untuk menyudutkan Tuhan agar memenuhi keinginan. Ketergantungan pada pemimpin kelompok jadi berkurang, dan mulai searching dari sumber sumber yang sebelumnya dianggap tidak menarik. Berbagai macam teologia yang dulunya tabu, menjadi makanan sehari hari. Anehnya kemajuan ke tahap ini, sering dilihat sebagai kemunduran, bahkan kemurtadan oleh teman teman dari tahap 3 yang masih nyaman disana. Kekuatan di tahap ini adalah bersedia melihat secara kritis pada kenyataan, dan ini membuat jarak yang tidak nyaman dari pola pikir yang lama dan kelompoknya. Di tahap 4, mereka memiliki iman individu yang unik, tidak takut lagi bahwa paham mereka berbeda dengan paham orang sekitarnya. Kelemahan tahap ini adalah bahwa mereka terlalu percaya pada rasio dan alam sadar, dan suka mengabaikan kekuatan DILUAR rasio.

Baca juga Lompatan Iman
Tahap5. Conjunctive Faith

Di tahap ini, bagaikan orang setengah baya, orang mulai siap mendengarkan inner voice yang kadang mengusik, suara hati nurani. Bukan secara superfisial mendengar suara roh Kudus yang didalam, tetapi dengan nyata hati nurani mulai muncul ke permukaan. Mereka mulai menyadari keterbatasan pikiran logika, dan dapat menerima paradox didalam hidup, tidak hitam putih didalam imannya. Orang yang di tahap ini, sudah tidak terlalu khawatir akan ke akuratan doktrin yang dianutnya. Alkitab tidak harus dipahami secara literal semua, moral of the story menjadi acuan dari kitab sucinya, bahkan kitab2 suci dari agama yang berbeda. Perbedaan dengan kelompok lain, tidak lagi menjadi pemikirannya, dan menganggap paham yang berbeda memperkaya pahamnya karena dapat menerima paradox didalam, hidup ini. Kutipan dari seseorang di tingkat ini “…doesn’t matter what you call it. Whether you call it God or Jesus or Cosmic Flow or Reality or Love, it doesn’t matter what you call it. It is there. And what you learn directly from that source will not tie you up in creeds….that separate you from your fellow man.” Di tahap ini, ajaran ajaran dari agama lain, menjadi menarik dan tidak taboo mendengarkan mereka. Ajaran Islam sufi, ajaran Buddha dari Ajahn Brahm, ucapan Dalai Lama, dan berbagai kata kata bijak filsuf Tiongkok menjadi kesukaan mereka, walaupun mereka masih beriman pada Yesus. Allah tidak lagi harafiah, Surga dan Neraka bukan lokasi lagi. Karakter yang menonjol, adalah berserah total pada Tuhan.



Tahap 6. Universalizing faith.

Hanya sedikit orang yang mencapai tahap ini, mungkin hanya panggilan khusus dari Tuhan. Beberapa contoh yang mencapai tahap ini adalah Nelson Mandela, Mother Theresa, Gandhi, dan Gus Dur. Mereka menjadi aktivist bagi universe. Memiliki komitmen yang luar biasa pada keadilan sosial, dan tidak lagi mementingkan diri sendiri secara nyata. Mereka sering mengorbankan kepentingan diri untuk kebaikan masyarakat luas. Tidak lagi mempedulikan kritikan tindakan dan pahamnya. Semasa hidupnya Mother Theresa sering dikritik karena hanya berbuat baik tanpa memberitakan Injil. Demikian juga semua tokoh di tahap ini selalu menerima kritikan.
Kalau pembaca menemukan dirinya tidak di tahap yang tinggi, itu tidak masalah. Biarkan iman Anda berkembang dengan sendirinya. Tidak perlu dipaksa, tetapi mengetahui dimana diri Anda akan membantu. Namun,  kalau misalnya Anda berada di tahap tertentu, tahap 3 misalnya, dan Anda mulai tidak nyaman. Mulai terusik dengan ajaran yang egosentris, mulai merasa yang dikatakan sebagai janji Tuhan, sebenarnya bukan janji, Anda merasa dorongan yang sepertinya mulai masuk ke tahap 4, jangan Anda tekan. Kritik dan cemoohan dari teman teman tahap 3 akan Anda dengar, dan kata mundur, sesat, aneh akan dituduhkan pada Anda. Itu biasa.
Jadilah yang terbaik di tahap masing-masing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s