A tribute to PAMELA


Pagi hari itu, Jum’at 26 Agustus 2016, ketika masih tidur, terdengar sayup-sayup suara klakson mobil. Saya tersentak, terduduk, dan bergegas keluar kamar, akan menyambut ibu saya. Dia memiliki kebiasaan datang dirumah pagi hari membawakan buah-buahan hasil halaman rumahnya yang luas. Dia bangga dengan hasil kebunnya yang bagus. Terutama buah avocado yang bulat, besar, creamy, dan bersih kulitnya. Selain itu, dia selalu tidak lupa membawa koran hari itu. Saya tidak berlangganan koran, dia, setelah membaca halaman pertama dengan cepat, memberikan koran hari itu agar saya bisa membaca. 
Kebiasaan datang ke rumah dilakukannya beberapa tahun diakhir masa hidupnya. Kami biasa duduk di meja makan sambil menikmati sarapan pagi dan ngobrol kesana kemari. Istri saya lebih pandai menciptakan conversation. Bagi saya, karena hampir setiap pagi, saya kehilangan nafsu untuk berbicara. Topik pembicaraannya habis. Terutama menjelang umur 90 tahun, dia tidak dapat mengikuti topik yang saya suka, Facebook, Twitter, Gadget, bagaimana  whatsapp sekarang di encryption dan sebagainya. Teman saya berkata, seorang yang berumur 90 tahun kalau masih mengikuti current event seperti berita bom, banjir, Jokowi, dan Ahok itu sudah luar biasa. Namun, pembicaraan kami cepat habis. Apalagi dia datang sudah sarapan, tidak mau makan lagi. Hanya terduduk memandang saya dan istri makan pagi.

Istri saya sering menegur saya yang diam saja dan lebih suka memainkan Gadget didepan ibu. Seharusnya saya lebih bisa mengajak berbicara. Namun kebiasaan datang pagi itu semakin lama menjadi membosankan. Kalau pagi mendengar klakson, didalam hati saya berkata “doh!” Namun kebiasaan pagi hari mulai berkurang. Kalau dulu mungkin lima hari dalam seminggu, lalu berangsur-angsur berkurang, sampai sekitar dua bulan yang lalu, dia tidak lagi datang, karena kesulitan untuk bergerak dengan bebas. Setelah kepergiannya, saya menemukan sebuah buku notes kecil. Ternyata berisi apa yang dia pelajari tentang Tuhan, baik dari khotbah2, Daily bread, dan ajaran2 dari Life TV. Isinya penuh treasures, kombinasi bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dan Belanda yang sempurna. Seharusnya setiap halaman, bisa menjadi topik pembicaraan yang menarik, baik bagi saya, Istri maupun ibu, tentunya. 

Jum’at pagi itu, ketika saya bergegas keluar kamar untuk menyambut ibu, saya terhenti ketika berpegang pada handle pintu. Otak saya mulai bisa berpikir jernih. Klakson itu bukan Ibu saya yang akan masuk halaman rumah. Hari itu adalah hari yang dijadwalkan untuk kremasi tubuh Ibu saya. Terngiang kata-kata terakhir dia, ketika saya jenguk dirumahnya: “Mami seneng banget nek koe dateng sini”. Saya kini sungguh merindukan saat pagi hari di meja makan bersama istri dan ibu. Memang seharusnya kita lebih banyak spend quality time dengan orang orang yang kita kasihi, sebelum terlambat. 

4 Comments Add yours

  1. Aryadevi Adhimukti says:

    Thanks Pak buat renungannya, sangat memberkati, saya share juga dgn anak2 saya. 

    Sent from Yahoo Mail on Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s